GKJW Gerejanya Pemuda

KONTEKS

Jagongan Road Service GKJW 2016 #3 Surabaya.
Para pendeta dan warga GKJW Jemaat Surabaya berbincang mengenai
pelayanan pemuda dan tantangan pemuda GKJW saat ini.
(dok. Road Service GKJW)
GKJW telah tumbuh di Jawa Timur dan berkarya secara luas selama lebih dari 80 tahun, bahkan jauh lebih panjang jika mengingat bahwa MA GKJW didirikan (1931) sebagai upaya persatuan ekumenis gereja-gereja (pasamuwan-pasamuwan) yang telah tumbuh terlebih dahulu di Jawa Timur sejak pertengahan abad ke-19. Gereja yang muncul sebagai sebuah bentuk kesadaran iman pribadi (organisme) dan mengikatkan dirinya dalam MA GKJW (organisasi-organisme) itu akhirnya tumbuh dalam corak yang sangat khas Jawa Timur. Atasnya GKJW tidak jarang disalahpahami sebagai gereja kesukuan ketimbang hakikat dirinya yang adalah gereja teritorial (berbasis kewilayahan Jawa Timur).
Tradisi telah menjadi basis yang kuat dalam pertumbuhan GKJW. 


Seiring pertumbuhan masyarakat yang semakin global, konteks Jawa Timur ini akhirnya memberikan warna dan nuansa yang kuat dalam berbagai ranah pelayanan GKJW, baik yang berdampak pada penguatan identitas kontekstualnya, maupun juga keterbatasannya dalam menyikapi perubahan (percepatan akulturasi-inkulturasi) poleksosbud yang terjadi di sekitar wilayah pelayanannya. Tidak ada yang pada dirinya sendiri utuh begitu saja, rampung, kesadaran keterbukaan (termasuk dalam wacana identitas) akhirnya menjadi sesuatu hal yang perlu untuk terus ditimbang.

Menariknya, dalam berbicara perihal tradisi, sebuah tren yang bergerak pada era modern-postmodern ini adalah kecenderungan untuk melihat tradisi lebih secara estetis ketimbang etis. Tradisi dilihat pada perkara-perkara eksotismenya, ketimbang nilai-nilai yang dikandung dan dimilikinya. Sebut saja misalnya sistem masyarakat berjenjang (unggah-ungguh) berdasarkan umur di Jawa. Raffles mencatatkan di bukunya History of Java, hal ini sudah sangat tampak pada masanya menjadi Lieutenant Governor of Java tahun 1811an. Sistem masyarakat tersebut memberikan penghormatan kepada mereka yang sepuh sebagai kesadaran bahwa mereka telah mengalami kehidupan dan pengalaman jauh lebih panjang, menimbang dengan lebih bijaksana, menghidupi nilai lebih dalam bersama dengan daur kehidupan mereka. Ini menunjukkan bahwa di Jawa ada penghargaan pada waktu (titi kala mangsa). 

Namun melihatnya secara estetis-eksotis kadang  mengaburkan pada potensi yang dimiliki oleh generasi yang lebih muda. Sedangkan masyarakat global meletakkan titik pusat percepatan budaya pada generasi yang lebih muda dan usia tua diletakkan dalam posisi ‘sudah waktunya beristirahat’. Tentu bahwa ini bukan upaya generalisasi yang mutlak, tapi ini adalah lebih hipotesis yang membutuhkan pembuktian kuantitatif berangkat dari pengamatan fenomenologis. Jika hipotesis ini benar, bisa jadi percepatan dalam diri GKJW akhirnya cenderung lebih lambat daripada masyarakat global. Dampaknya adalah rasa kikuk dalam perjumpaan GKJW dengan perubahan (tanpa mengatakan bahwa perubahan adalah sama sekali baik dan bebas nilai).


TEKS

Namun, ketika berbicara masalah konteks, melulu melihat pada konteks kesejarahan masa lalu dan agak terlambat menimbang konteks kekinian (kontemporer) bisa menjadi bumerang bagi pertumbuhan GKJW sendiri. Kesadaran atas ini kemudian menguat dalam landasan programatis GKJW, PRKP (Pokok-pokok Rancangan Kegiatan Pembangunan) GKJW yang berlaku tahun 1987 – 2016. PRKP GKJW secara khusus yang sekarang sedang dijalani dalam periode PKP V (Program Kegiatan Pembangunan, turunan 6 tahunan dari PRKP) (2011 – 2016) memberikan salah satu penekanan rencana strategisnya pada pemberdayaan generasi muda. Namun dengan rendah hati harus juga diakui bahwa wacana identitas seringkali memasang-surutkan rencana strategis tersebut. Ada 5 (lima) program utama dalam pertumbuhan kepemudaan dalam PKP V yang hendak dicapai dalam PKP V:

  1. Pemantapan Sistem Regenerasi Pelayanan & Kepemimpinan Gereja
  2. Program Pembinaan & Pengembangan Model Pembinaan/ Pastoral Tenaga Pendamping Pemuda dan Mahasiswa
  3. Pengembangan Peribadatan Pemuda GKJW
  4. Peningkatan Kualitas SDM Pemuda
  5. Pembinaan Mahasiswa GKJW Sebagai Kader Gereja Berbasis Kampus

Rapat Tim Road Service GKJW di Kafe Door, GKJW Tunglur.
(dok. KPPMD Malang I)
Sejauh apa dalam PKP V kelima program utama tersebut telah dilaksanakan, jelas membutuhkan penelitian mendalam. Namun secara kasat mata, kita masih menemukan sedikit banyak senjang teks-konteks yang terjadi di GKJW. Beberapa masalah yang tampak (tentu saja ini lagi-lagi asumsi yang perlu dibuktikan karena semata-mata lahir dari pengamatan fenomenologis) antara lain: pemuda merasa bahwa ibadat di GKJW kurang nge-pemuda-i; cukup banyak pemuda GKJW yang memilih untuk menjadi kurang aktif dalam kegiatan bergereja kecuali kegiatan jalan-jalan; pemuda yang aktif hanya itu-itu tok; pemuda GKJW kurang dekat dan kurang cinta dengan Tata Pranata, PRKP, dan sistem organisasi GKJW; di beberapa tempat nuansa senioritas-junioritas masih dirasa kental; semangat wirausaha pemuda GKJW kurang bertumbuh; belum ditemukan formula pembinaan basis kampus yang efektif; jiwa kepemimpinan dan kepioniran (untuk ambil bagian secara aktif dari inspirasi sendiri, bukan diperintah) masih kuranng; dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukkan bahwa sampai hari ini, pembinaan kepada pemuda GKJW masih terus dibutuhkan.

DPPM GKJW berusaha menggemakan semangat dalam PKP V itu sebagai upaya menjembatani senjang yang terjadi: MANGALA, Mantep, Ngadeg, Landep. Semangat ini digemakan sejak PRP (Pertemuan Raya Pemuda) GKJW tahun 2011 di Sidorejo. Sedikit menguraikan, MANGALA yang adalah jiwa yang diharapkan dimiliki oleh para pemuda GKJW senantiasa dari waktu ke waktu, sebagai berikut:
  • Mantep: memiliki integritas, berdiri di tengah dunia, tapi tetap berakar pada Kristus. Tidak gampang tergoyahkan oleh rupa-rupa gemebyar di sekitarnya.
  • Ngadeg: mandiri dan berdikari. Tidak sepenuhnya menggantungkan dirinya kepada orang lain. Baik dalam teologi, daya, maupun dana.
  • Landep: kritis dalam menyikapi apa pun, baik yang tampaknya duniawi maupun yang tampaknya rohani.

Komperlitbang MA GKJW mencatatkan beberapa evaluasi baik yang positif maupun yang masih perlu diperjuangkan terus menerus atas pelaksanaan PRKP GKJW (sebenarnya masih di tengah jalan, tapi evaluasi ini disusun sebagai langkah persiapan membuat program jangka panjang berkutnya). Beberapa evaluasi mencolok tentang kepemudaan GKJW tercatat di seluruh GKJW se-Jawa Timur Raya adalah sebagai berikut:
  1. Pemuda GKJW, sebagaimana warga jemaat yang lain, mempunyai pemahaman yang khas mengenai Allah, Gereja, dan Patunggilan kang Nyawiji.
  2. Dimilikinya kebanggaan para pemuda terhadap GKJW. Hal ini ditandai dengan diadakannya ibadah pemuda dengan frekwensi menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Pada umumnya mereka menggunakan liturgi dan buku nyanyian seperti yang telah ditetapkan GKJW dan nyanyian lain (buatan sendiri). Di beberapa jemaat bahkan sudah dikembangkan model ibadat nuansa pemuda dalam Ibadat Minggu.
  3. Jemaat-jemaat telah memberikan kesempatan kepada pemuda untuk berperan dalam persekutuan dengan menjadi organis dan pandu puji, menjadi pamong anak dan remaja.
  4. Walaupun minat warga terlibat dalam pelayanan tinggi, tetapi talenta-talentanya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh gereja dalam kegiatan pelayanannya.
  5. Di kalangan pemuda ‘masih ada’ yang tertarik bahkan pergi beribadah ke gereja selain GKJW, karena metode pembinaan dan ajarannya dirasa cocok bagi dirinya.
  6. Masih tingginya warga jemaat GKJW yang tidak bekerja (25,8%). Sebanyak 60 % warga GKJW tinggal di pedesaan, dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi. Perlu diketahui bersama, bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia ada sebanyak 31 juta orang, yang 64 prosennya tinggal di pedesaan. Mereka rata-rata menjadi buruh tani dan “pengangguran terselubung”.  Bisa jadi pemuda adalah bagian dari angka ini.
  7. Pembinaan kepada pemuda untuk memasuki era global masih terbatas. Hal ini penting mengingat keadaan Indonesia yang memasuki bonus demografi.


Sebagai upaya lanjutan sekaligus melihat proyeksi 18 tahun ke depan, maka untuk melanjutkan langkah pelayanan GKJW supaya semakin mantap, maka GKJW menyusun PPJP (Program Pembangunan Jangka Panjang) sebagai kelanjutan dari PRKP. PPJP GKJW akan diberlakukan mulai tahun 2018 – 2034. Dalam PPJP GKJW ini, pemuda menjadi salah satu fokus penting bagi pergerakan GKJW ke depan. Jadi, sejauh ini kalau ada yang mengatakan GKJW bukan gerejanya pemuda, bisa dibilang, “Gagal paham banget! GKJW itu gerejanya pemuda banget!”


TANTANGAN

Pdt. Gideon dalam Road Service GKJW 2016 #1 Mojokerto
(dok. Road Service GKJW)
  1. Global dan Domestik. Tahun 2015, Asean memasuki MEA dan AFTA. Peluang terbesar yang dimiliki Indonesia, dan GKJW secara khusus, tentu saja bertumpu pada para warganya. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa pada tahun-tahun ini sampai tahun 2030an Indonesia memasuki sebuah era bonus demografi, ketika tenaga kerja yang menanggung jumlahnya lebih besar daripada yang harus ditanggung (anak-anak dan lansia). Di sisi lain, GKJW juga mempunyai rumah sakit, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga sosial semaca Pilkesga, Maryam, dan juga PT BUAUM Agung Sejahtera yang semuanya akan ikut berkiprah dalam kancah global internasional ini. Ketika proyeksi diletakkan pada fokus yang kurang pas, maka tantangan global dan domestik GKJW ini bisa menjadi bencana tersendiri. Dan mau tidak mau, tumpuan besar harapan GKJW adalah pada para generasi GKJW hari ini, pemuda. Pemuda mempunyai rentang usia yang cukup panjang untuk hidup dalam era pertumbuhan GKJW ke depan. Jika pemuda di jemaat sampai MA agak kurang diperhatikan, maka bisa jadi, dalam perhitungan rasional (yang adalah juga berkat Tuhan bagi manusia) GKJW bisa mengalami masa-masa berat. Tantangan tidak hanya terjadi dari dalam, tetapi juga dari luar. Jika ini tidak disikapi bersama-sama, melalui semua elemennya dalam semangat yang sama, maka proyeksi GKJW untuk mandiri dan menjadi berkat bisa terhambat.
  2. Do it right or make it right? Semangat yang agak kuat muncul di GKJW selama ini adalah lebih cenderung pada do it right, ketimbang make it right. Semangat do it right adalah semangat untuk menyelesaikan tugas dengan tepat, sedangkan make it right adalah semangat ‘golek gawean’ menginisiasi supaya tepat. Semangat do it right sangat baik dalam menyelesaikan tantangan-tantangan dan tugas-tugas yang terjadi hari ini di sini (ada di depan mata, kekinian), tetapi agak kurang awas dengan tantangan-tantangan dan prediksi atas yang akan datang. Semangat menginisiasi ini yang perlu dikembangkan untuk menghadapi segala kemungkinan dari dalam dan dari luar melengkapi semangat do it right yang selama ini sudah kuat. Semangat menjemput bola bukan sekadar menunggu. Salah, nanti dibenarkan sambil jalan. Semangat make it right memang semangat yang bisa jadi dibaca mengaburkan identitas, jika identitas dilihat dalam kacamata sebagai peninggalan historis yang tidak boleh berubah dan diubah. Namun, ini tampaknya pendapat tentang identitas yang demikian agak kurang utuh. Posmodernisme membuat pola yang berbeda dalam perkembangan sejarah dunia. Sejarah dalam era posmodernisme tidak lagi semata-mata linear dan deterministik, tetapi lateral, berlapis, eklektik, paralel, dan stokastik. Perlu diingat bahwa identitas layaknya sejarah, tidak hanya berlaku untuk cerita-cerita dahulu tetapi juga termasuk membawa serta cerita-cerita hari ini dan peluang masa depan. Secara sederhana, sejarah bukan hanya diwarisi tetapi juga dibuat. Jika identitas dilihat dalam kemungkinan yang seluas ini, maka sebenarnya tidak perlu takut dengan tantangan yang akan datang. Tidak perlu terlalu khawatir. Perubahan identitas itu pasti terjadi dalam kerangka kulit permukaan, estetis-eksotis. Yang paling penting adalah spiritualitas-etisnya tidak berubah. Panggilan GKJW dalam Tata GKJW Revisi dituliskan “keluar dari gelap menuju terang yang sejati”, visinya “Menjadi rekan kerja Allah dalam mewujudkan tanda-tanda hadirnya kerajaan Allah bagi dunia.” Sepanjang panggilan dan misi ini terus dihidupkan, bentuk bisa sangat menyesuaikan, bahkan bisa sangat mutakhir dan inovatif. GKJW perlu menitikberatkan pembinaan pemuda dalam kerangka ini. Karena para pemuda inilah yang mempunyai napas paling landung dalam hidup bersesuaian dengan konteks dan hidup dalam konteks kekinian dan masa depan. Hal ini tentu bukan mengatakan bahwa serahkan pada pemuda semua selesai, pemuda pun pada masa pertumbuhan psikologisnya memiliki krisis-krisis khasnya. Pendampingan yang tepat dan menyasar pada proyeksi penting agar GKJW terus bisa hidup mandiri dan menjadi berkat.
  3. Generasi Ahistoris. Ini adalah salah satu masalah terbesar pemuda saat ini. Keterikatan dan kemelekatan pemuda pada kekinian kadang membuat mereka semata-mata terpesona dengan gemebyaring jaman yang ada di depan mereka. Tidak salah, karena siapa pun hidup pada periode yang tertentu. Namun kadang ini  membuat pemuda kurang menghargai apa yang dimiliki, lebih memilih menengok rumput di kebun tetangga. Akhirnya tanpa daya kritis, ikut menanam rumput tetangga di halaman sendiri. Padahal bisa jadi tanahnya lain sama sekali. Sebut saja sebagai contoh: Pemuda GKJW (tampaknya bukan hanya pemuda tapi banyak warga GKJW) kalau sudah berbicara mengenai liturgi GKJW, mereka mulai kehilangan pijakan. Semata-mata melihat pada sisi membosankannya ibadat GKJW, berbeda dengan ibadat ekspresif yang muncul di beberapa gereja tertentu yang begitu semarak dan spektakuler. Harus jujur diakui hal ini terjadi karena pola pembinaan pada liturgi dan ibadat lebih cenderung mengajari dan menurunkan ketimbang meriset dan menggali. Akhirnya bentuk baku menjadi kaku; baku tidak menjadi pola tapi menjadi standar kebenaran yang harus semata-mata demikian. Liturgi tidak menjadi alat bagi ibadat yang adalah wahana perjumpaan segitiga aku-Allah-sesama sesuai Pranata GKJW tentang ibadat, tetapi semata urut-urutan yang kalau tidak begitu salah dan masuk neraka. Alih-alih ini membebaskan ini  malah menjadi beban. Lantas apa yang harus dilakukan? Mengubah liturgi? Demikian lompatan kesimpulan yang biasanya terjadi tanpa upaya riset dan penggalian. Ketika seseorang mau repot-repot menggali mereka akan menemukan bahwa bangunan historis atas liturgi yang sekarang ada adalah bangunan yang luar biasa kokoh secara teologis dan etis. Dan begitu saja merombak yang kokoh apalagi secara teologis dan etis dan begitu saja menggantikannya semata karena kesan bisa jadi malah salah asuhan. Artinya pelajari dulu, kalau sudah ketemu titik lemahnya, kuatkan sisi lemah itu. Kita harus jujur bahwa GKJW selama ini belum banyak memiliki khazanah musik, baik klasik maupun kontemporer, yang cukup wahid dalam ibadat, pembacaan Alkitab cenderung kurang menghidupkan teks, dan banyak hal yang di permukaan terkesan membosankan dan mengantar tidur apalagi setelah lelah seharian. Namun, mengatakan bahwa itulah GKJW atau langsung mengatakan bahwa GKJW bukan itu adalah terlalu sembrono. Inilah pentingnya pembinaan yang menarik dan berkualitas. Pemuda GKJW pemuda yang berkualitas dari platinum generation, sepatutnya bagi mereka yang demikian dilayankanlah pembinaan yang memenuhi kualifikasi itu. Butuh lebih ‘sara sithik’ tetapi ‘sara’ itu sepadan (worth it). Ini juga kritikan bagi pemuda, supaya pemuda jangan hanya terpesona dengan gemebyar, tetapi penting untuk menjadi kritis pada apa yang ada di depan mata, sejarah, dan peluang ke depan.
  4. Klasifikasi jelas. Selama ini pembinaan pemuda di GKJW dibayangkan bisa berlangsung terus berkelanjutan. Ini agak melupakan satu hal bahwa pemuda adalah rentang usia yang terbatas. RUU Kepemudaan Indonesia mencatatkan bahwa pemuda adalah mereka yang berusia antara 16-30 tahun. Rentang usia ini jelas. Pemuda adalah suatu masa yang not lasting forever. Berdasarkan rentang usia tersebut ada tahapan-tahapan yang berbeda-beda: remaja pemuda, pemuda, dan pemuda dewasa. Klasifikasi ini menjadi penting karena ini berguna untuk penemuan model pendekatan (approaching) yang jelas dan tepat sasaran. Perbedaan tahapan itu, dikombinasikan dengan elemen lain seperti pemuda pelajar, mahasiswa, pemuda karya, menunjukkan bahwa tidak bisa pembinaan yang efektif dilakukan dalam generalisasi. Pembinaan perlu disesuai dengan klasifikasinya. Dan rentang waktu itu menunjukkan bahwa pembinaan pemuda ada dalam sebuah daur yang siklis, berputar, ketimbang linear. Gereja perlu melihat hal ini dalam melakukan pembinaan terhadap pemuda. Remaja pemuda tidak bisa begitu saja disejajarkan dengan pemuda dewasa, konteks mereka sudah sama sekali lain. Pemuda pelajar dan pemuda karya juga ada dalam pergumulan yang masing-masing tersendiri. Gereja sebagai organisasi adalah wadah bagi pertumbuhan segala klasifikasi ini, maka gereja perlu meluaskan kacamata pada perbedaan klasifikasi ini.
  5. Berdikari. GKJW ada dalam sebuah sistem yang diatur melalui Tata Pranata sebagai landasan substansial organisatoris bergerejanya, PRKP dan PPJP sebagai landasan programatisnya, Ortala sebagai petunjuk teknis organisatorisnya. Perpanjangan tangan dari berbagai landasan ini paling kelihatan adalah PKT yang dilaksanakan tahunan. Sumber utama anggaran untuk pemenuhan kegiatan rutin dan PKT selama ini cenderung pada persembahan yang rutin (mingguan, bulanan). Mengandalkan sumber itulah yang seringkali membuat banyak pembinaan yang terencana baik akhirnya tidak cukup awas dengan perubahan poleksosbud. Dalam hal ini pemuda dan warga jemaat secara keseluruhan perlu mempunyai semangat berdikari dan handarbeni GKJW ini. Perlu diupayakan berbagai cara agar pembinaan bisa dilakukan dengan upaya pendanaan yang aktif dan tidak hanya bersandar pada angka anggaran dan PKT. Kerelaan diri berjuang dan berkorban dibutuhkan untuk sebuah masa depan gereja yang lebih baik. Jer basuki mawa bea. Semangat mandiri, enterpreneurship perlu dibangun untuk menunjang kerangka ini juga. Para pemuda perlu disuntik semangat, “Ya apa rek carane cek gak ngebot-ngeboti jemaat, tapi awake dhewe isa dadi dalane jemaat mewujudkan panggilannya.” Pemuda GKJW kreatif, yang diperlukan pendampingan dan pengarahan agar kreativitas itu berbuah berkat dan memberkati. PEW GKJW, fokus dan sasarannya lebih baik kepada pemuda, mereka yang sedang membangun diri, membangun usaha. Generasi yang lebih tua cenderung sudah settle dengan kehidupan mereka.
  6. Gereja masa depan. JPCC (Jakarta Praise Community Church) adalah salah satu gerakan terbesar yang saat ini ada di Ibukota Indonesia. Nama-nama terkenal yang muncul di kaset, selebaran, bahkan panggung nasional lahir dari gereja tersebut. JPCC terkenal dengan ibadat mereka yang fenomenal. Yang agak kurang dilihat bahwa di JPCC tidak memiliki komisi pelayanan lansia, bukan karena mereka tidak melayani lansia (ada tetapi tidak dominan), tetapi karena JPCC telah mampu menjadi wadah gerakan yang menarik dari anak-anak sampai warga dewasa (khususnya dewasa muda). Jika melihat simpatisan mereka yang ribuan hampir bisa diduga bahwa JPCC adalah salah satu model gereja masa depan yang akan bermasa depan cukup panjang, karena isinya orang-orang muda. Kesetiaan dan kecintaan mereka pada pelayanan luar biasa. Sebut saja sebuah contoh kecil, seorang Sari Simorangkir mengkoordinasi 500 musisi yang berlatih dan mengisi ibadat dengan penuh dedikasi, semangat, dan disiplin. Lihat website mereka, website mereka benar-benar menarik, dikelola profesional dan sangat hidup. JPCC akan berusia panjang. Semangat gereja masa depan ini yang perlu dimiliki oleh GKJW. Tentu polanya akan sangat berbeda dengan JPCC, tapi semangat itu yang penting. GKJW punya basis massa yang sudah ada sejak berdirinya pasamuwan-pasamuwan di tanah Jawa Timur. GKJW tentu memiliki rentang pelayanan usia yang lebih luas. Tapi untuk menjamin sebuah gereja masa depan, pendampingan kepada pemuda cinta GKJW perlu terus menerus diadakan: Penanaman jiwa kesetiaan kepada gereja dan kekristenan. Dalam hal inilah maka pemuda harus bersedia ikut berjuang, yang tua harus mau ikut terjun. Motor-motor dan motivator pemuda perlu terus dilatih dan dibuatkan wadah, sehingga mereka yang sekarang ada di dalam GKJW, berani mengatakan “Urip mati tetep GKJW!”
  7. Wahana diskusi dolan. GKJW, khususnya pemuda, butuh wahana ini. Wahana diskusi dolan. Hari ini diskusi tidak lagi terjadi dalam ruang formal. Yang formal cenderung mematikan insiatif mereka yang liar. Yang formal tidak akan menarik para jemaat parkiran yang lebih senang berada di luar gedung gereja ketimbang beramai-ramai di dalam. Maka wahana diskusi dolan ini menjadi wahana diskusi yang asyik tetapi tetap tajam dan kritis. Sehingga bukan hanya dolan, tetapi diskusi; bukan hanya diskusi tapi juga dolan. Dan hasil dari diskusi itu perlu didokumentasikan dengan sangat baik. Kekuatan Israel adalah pada dokumentasi mereka. Dokumen penting mereka kanonkan sebagai kitab suci, dokuman yang wibawanya di bawah itu mereka masukkan dalam misnah, middrash, gemara, dll. Jangan ada yang tercecer, itu adalah basis pertumbuhan. Diskusi warung kopi kadang lebih hidup dan organik ketimbang diskusi formal.
  8. Spiritualitas. Ini dia kuncinya. GKJW adalah gereja, jadi seluruh aspek gereja Tuhan ada di sana. Sisi ini yang tidak bisa berubah. Seperti Tuhan Yesus. Dulu sekarang sampai selama-lamanya.

Masih mau mengatakan GKJW bukan gerejanya pemuda?

COMMENTS

Nama

15 Menitan,59,ACWC,2,adi yuswa,2,Adven,1,Baptis,3,Berita,180,Berita Jemaat,75,Bulan Budaya,1,Bulan Keluarga,1,Bulan Kitab Suci,1,Daur Majelis,2,Essay,10,Foto,119,Gereja Suaka Iklim,3,Hari Doa Sedunia,3,HPPGA,2,HUT,3,HUT ke-135 Tahun,1,HUT RI 78,1,Ibadah,64,Ibadah Syukur,18,Intergenerasi,3,Jumat Agung,2,Kafe Door,10,Kamis Putih,1,Kartini,2,Kelas Kreatif,12,Kelas Mulung,5,Kemerdekaan,3,Kerja Bakti,4,Kesekretariatan,23,Kespel,2,KPAR,36,KPAY,5,KPK,6,KPMG,2,KPP,11,KPPL,8,KPPM,32,KPPW,8,KPT,47,Lomba Agustusan,1,Majelis,1,MD Kediri Utara 2,16,Minggu Palmarum,1,Mulung,82,Natal,12,Oikumene,1,P2A,5,PA,3,Padus anak,1,Pamong,1,Paskah,11,Pekan Pemuda,1,Pemuda,23,Pendeta,5,Pentakosta,2,Perjamuan Kasih,2,Perjamuan Kudus,5,Pertanian Organik,4,PEW,15,PJS,1,Pokja Reportase,2,Poster Natal,1,PPerjamuan Kudus,1,Pra Paskah,8,Produk Cafe Door,3,Produk Jemaat,5,Produk Kelas Kreatif,2,Produk Pemuda,1,Program,8,Program Unggulan,40,PTWG,3,Renungan,50,Sabtu Sunyi,1,SALIB,1,Sejarah,4,Sidang MD,1,Tahun Baru,3,Teologi,27,Tokoh,5,UEM,2,UKDW,1,Unduh-unduh,4,Warga,27,Wartawan Cilik,8,
ltr
item
GKJW Jemaat Tunglur: GKJW Gerejanya Pemuda
GKJW Gerejanya Pemuda
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhO0JL1p1TYp7XN-CEmTvODwRdfcIyLQ9AtdybQrhkYxN09uL5VHUDKVxfv2JMv-6azXx137lOLufoyYXfFpsVDyIaNpF-XxnwuOXO196s1a2h0dwY9AlAdrHYnj0TFhHc99JN1sJhX-g9p/s400/sarasehan.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhO0JL1p1TYp7XN-CEmTvODwRdfcIyLQ9AtdybQrhkYxN09uL5VHUDKVxfv2JMv-6azXx137lOLufoyYXfFpsVDyIaNpF-XxnwuOXO196s1a2h0dwY9AlAdrHYnj0TFhHc99JN1sJhX-g9p/s72-c/sarasehan.jpg
GKJW Jemaat Tunglur
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/02/gkjw-gerejanya-pemuda.html
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/02/gkjw-gerejanya-pemuda.html
true
6179814512795437537
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy