Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (9b)

Dan Kemuliaan Sampai Selama-lamanya (Bagian 2)

Dalam bagian pertama (9a) kita melihat bahwa Tuhan maha mulia. Kemuliaan itu membutuhkan ilmu titen. Dengan sangat mudah kita melihat kemuliaan Tuhan pada keagungan ciptaanNya, karya,  mukjizat-mukjizat, sabdaNya yang menggetarkan, dan kekuasaannya. Namun ada saat-saat tidak mulia yang ganjil dalam perjalanan hidup Yesus: Yudas, Doa Getsemani, dan "Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Ketiga hal tersebut membuat kita bertanya, benarkah Dia memiliki kemuliaan sampai selama-lamanya? Maka marilah melihat ketiga hal tersebut lebih dekat.

Yudas. Bagaimana mungkin untuk seseorang sempurna seperti Yesus (pengajaranNya sempurna, kasihNya sempurna, pengampunanNya sempurna - bahkan hingga titik terakhir kehidupanNya dia masih memintakan pengampunan untuk orang-orang yang menyalibkanNya) terselip sebuah kegagalan dalam lingkungan terdekatnya: Yudas, murid yang dipercayainya dan kelompoknya bahkan untuk memegang keuangan mengkhianati Dia. Tuhan seolah tidak memiliki daya atas diri seorang Yudas, salah satu orang kepercayaanNya.

Mungkinkah Yesus salah memercayai seseorang? Mungkin saja, tapi kita kemudian melihat pada para murid yang lain. Mereka pun sebenar-benarnya tidak benar-benar paham arah karya Yesus sampai pada kebangkitanNya. Ketika terjadi penyaliban, para murid berlari, bersembunyi, bahkan menyangkal Yesus. Sehingga bukan hanya Yudas seorang yang sebenarnya tidak memahami maksud karya Yesus, bahkan seluruh kelompok terdekatNya.

Namun demikianlah jika kita melihat sebatas pada kematian Yesus. Namun, memotong sebuah cerita sebelum semua berakhir memang akan akan berpotensi menyesatkan. Termasuk membuat kita lupa pada detail-detail penting yang adalah kunci dari ilmu titen. Yang saya maksudkan adalah: semuanya belum berakhir sebelum benar-benar akhir. Dan kita kemudian tahu bahwa kematian salib sekalipun itu sebuah klimaks yang menggetarkan, tapi Kekristenan tidak pertama-tama berpusat pada salib, Kekristenan adalah tentang Paskah - sebuah kisah dengan pola berulang dengan kisah pengurbanan Ishak oleh Abraham, dan sebuah pola serupa dari perjalanan Israel atas Mesir dan Babel. Penyembelihan Ishak dan pembuangan adalah jalan pemurnian iman menuju pada sebuah perjalanan ziarah kemenangan.

Selama-lamanya tidak menunjuk pada kesementaraan. Selama-lamanya adalah tentang awal sampai tidak berbatas. Maka seketika kita tahu bahwa Yudas adalah bagian perjalanan menuju pada kesempurnaan karya Yesus. Saya tidak mengatakan bahwa perbuatan Yudas lantas menjadi baik, bahwa pengkhianatannya adalah kebaikan kasih, tetapi bahwa Tuhan menggunakan peristiwa buruk bahkan kesalahan untuk menyempurnakan karyaNya. Bahwa peristiwa buruk bukanlah kegagalan, tetapi peristiwa buruk, perjalanan panjang di padang gurun, bahkan keanehan seorang bapak yang hendak menyembelih anak terkasihnya adalah bagian dari keutuhan kisah kemenangan. Tanpa Yudas, penyaliban tidak akan terjadi, tanpa penyaliban tidak akan ada kebangkitan. Di dalam Tuhan tidak ada keburukan, semuanya adalah bagian perjalanan ziarah iman. Bahwa kegagalan bukan segalanya.

Ini lalu mengingatkan kita pada kisah kita setiap hari. Kita sudah berjuang dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya malah nol besar. Kita berusaha baik tetapi malah dikhianati. Kita setia mencintai seseorang tetapi dia malah mengecewakan kita. Kita menaruh kepercayaan utuh pada seseorang tetapi malah ditinggalkan. Kita sudah berusaha melayani dengan baik, tetapi ternyata tidak juga berbuah. Maka kisah Yudas adalah sebuah jalan yang membuat kita mengingat bahwa Tuhan pun mengalami itu. Dia bersetia dalam hidupnya melakukan panggilan BapaNya, tapi dikecewakan juga oleh kenyataan. Bukankan ini sebuah bentuk belarasa - empati Tuhan pada hal-hal yang kita anggap kegagalan. Bahwa ini bukan masalah kegagalan, tapi ini adalah sebuah perjalanan yang belum selesai. Bahwa kesetiaan pada jalan iman itu, mungkin akan gagal, tapi sebenar-benarnya tidak. Marilah melihat pada tuntasnya suatu hal, dan kita akan dikejutkan bahkan dalam kegagalan, Tuhan pun berbelarasa atas kita, "Jangankan kamu, aku pun demikian, tapi itu bukan akhir." Maka peristiwa Yudas sebenarnya justru adalah tanda kemuliaan Tuhan yang luar biasa. Dia tidak hanya mulia dalam kemegahan, tetapi dia juga mulia dalam pengkhiatanan dan kekecewaan sekalipun. Apa yang lebih mulia dari seseorang yang berbelarasa, sekalipun dia bisa memilih jalan yang lebih mencengangkan dan memdebarkan, populer dan spektakuler? Ternyata Dia justru memilih jalan terendah, supaya orang yang mengalami titik terendah bisa melihat kepadaNya, "Tenang, ini bukan akhir segalanya. Pungkasan baru akan datang."

Kedua adalah Doa di Getsemani. Seorang Yesus yang melakukan kehendak Bapanya dengan setia akhirnya menyerah juga pada ketakutan jiwanya. Drama Malam Getsemani jelas adalah salah satu drama paling disukai oleh banyak orang, karena Tuhan pun bisa lemah. Maka saya pun bisa lemah. Sekali lagi kita melihat belarasa Tuhan.

Namun ada sesuatu yang lebih istimewa dari itu, dalam kelemahan, Dia tetap berusaha setia. Doa Getsemani tidak hanya berakhir pada "Ambillah cawan ini." Tetapi berlanjut dengan "Namun jangan kehendakKu, tetapi kehendakMulah yang terjadi." Lihatlah! Inilah kepasrahan hidup yang lebih dari pada apa pun. Kalau kita mengatakan pasrah atau berserah, itu bukan sekadar mengandalkan Tuhan dalam perjuangan kita lalu mengatakan, "Saya berusaha, Tuhan yang berkehendak." Tetapi lebih daripada itu, "Keinginan hati saya tidak sama dengan keinginan Tuhan dan panggilan iman saya." Lalu saya harus bagaimana?

Doa Getsemani mungkin disebut oleh beberapa orang sebagai momen kelemahan Yesus, tetapi bagi saya sebenarnya justru di sanalah momen terkuat dalam hidupNya. Ketika dia hendak mengatakan saya ingin berhenti, tetapi penggilan imanNya mengatakan, "teruslah berjalan, Kamu harus mati." Dan Dia mengatakan, "Jika boleh saya mundur, tapi jika Tuhan berkata maju saya akan ikut." Inilah berserah, ketika kita sudah tidak lagi punya kendali atas diri kita, bahkan atas keinginan kita. Pasrah berserah itu terjadi ketika kita sudah sama sekali kehilangan kendali atas keingin kita, dan kita lalu mempercayakan kemudi itu kepada Tuhan.

Suatu saat Tuhan memanggil kita, untuk mengampuni yang menyakiti kita, untuk setia pada pekerjaan baik yang membosankan, untuk setia kepada suami atau istri yang ternyata tidak seperti yang kita bayangkan, untuk menjadi majelis jemaat, untuk terlibat pelayanan, untuk berangkat menjadi relawan tanggul bencana, untuk keluar dari zona aman kita. Kita rasanya ingin mengatakan tidak. Dan sebenarnya kita bisa lari. Tapi kita sadar akan panggilan hidup kita. Dan sekalipun saya tidak mau mengampuni, mengasihi, berangkat, tapi  karena ini kehendak Tuhan dan kita tahu itu yang baik, kita mempercayakan kepada Tuhan.  Baiklah saya sudah tidak punya apa-apa lagi, selain kesetiaan. Jadi jikalau saya kehilangan semuanya, tidak apa-apa, asal Tuhan tidak meninggalkan saya. Angger kinanthi Gusti. Maka kita tahu bahwa kemuliaan terbesar justru terletak pada kerelaan meninggalkan kemuiliaan diri untuk kehidupan. Kemuliaan Yesus yang terutama bukan pada kendaliNya, tapi pada ketiadaan kendali (kekosongan diri), dan dengan itu dia selesai. Dia menjawab dua pertanyaan besar kehidupan: siapakah saya dan untuk apa saya hidup di dunia ini.

Angger kinanthi Gusti, "Saya tidak masalah menderita bahkan tidak memiliki apa pun lagi, asal Tuhan masih bersama saya." Lalu bagaimana dengan yang terakhir, "Allahku! Allahku! Mengapa Engkau meninggalkan aku?" Bagaiaman jika Tuhan meninggalkan kita?

Maka jika kita titen, pertanyaan terakhir tentang kemuliaan ini adalah pertanyaan yang tidak terlalu susah dijawab. Ini belarasa Yesus pada mereka yang merasa ditinggalkan Tuhan, iya. Ini belarasa Yesus pada bangsanya yang dijajah Romawi, dan Tuhan seperti diam saja, iya. Ini belarasa Yesus untuk kegagalan, iya. Tapi lebih dari itu, kita tahu, bahwa pernyataan itu pertama kali tidak muncul dari Yesus, pernyataan yang dituliskan oleh para penulis Injil itu telah dituliskan dalam Mazmur 22:1 dalam bentuk lain. Jika di Mazmur tertulis, עֲזַבְתָּ֑נִי  לָמָ֣ה  ‎אֵלִ֣י  אֵ֭לִי  (Eli Eli lama azabtani) kesedihan Israel karena Tuhan meninggalkan mereka dalam penderitaan, di dalam Injil tertulis Eli, Eli, lama sabachthani? Ada perubahan azabtani menjadi sabachtani. Perubahan itu karena Yesus berbicara bahasa Aram, dia tidak menggunakan Alkitab Ibrani kanonik dalam bahasa Ibrani alkitab, tetapi menggunakan Ibranih misnah dalam targum Aram.

Jika titen, maka kita melihat bahwa ucapan-ucapan Yesus di salib hampir semuanya bukan ucapannya pribadi, tetapi ucapan yang terdapat dalam Kitab Suci Ibrani. Maka penulis Injil secara jelas ingin menunjukkan itu sebagai penggenapan dari Kitab yang telah mereka kenal. Bahwa kematian Yesus adalah penggenapan dari karya Tuhan untuk Israel. Ketika Yesus mengatakan Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku, adalah pernyataan Israel: Tuhan mengapa Engkau meninggalkan aku, siapakah Tuhan? Yesus sendiri. Dengan demikian pernyataan itu mewakili orang-orang Israel yang membaca Mazmur, "Allahku (Yesus) mengapa Engkau meninggalkan aku?" Mengapa Yesus meninggalkan kita? Bahwa kematian Yesus adalah kesedihan atas Israel. Bahwa pada tahap ini Yesus tidak lagi berbicara atas nama pribadinya, tetapi atas nama orang lain. Inilah empati itu, ketika aku bukan aku lagi, tetapi aku adalah juga kamu dan yang lainnya yang menderita.  Dan ini semakin kuat ketika Dia juga tercatat mengatakan, "Ke dalam tanganmu Bapa, kuserahkan nyawaku."  dan "Sudah selesai." Puncak dari iman adalah penyerahan diri utuh, termasuk nyawa pada Tuhan. Dan apakah Tuhan meninggalkan? Nyatanya tidak, demikianlah kita menghargai Paskah.

Maka dalam yang nampaknya ketidakmulaiaan, justru di sanalah tersimpan kemuliaan paling utama. Bahwa hidup ini bukan sekadar tentang karya fenomenal, bahwa kemuliaan terbesar justru adalah kesetiaan pada panggilan dan hidup berserah melepaskan segala daya, kepada Tuhan, sang sumber hidup. Less is more.

COMMENTS

Nama

15 Menitan,59,ACWC,2,adi yuswa,2,Adven,1,Baptis,3,Berita,185,Berita Jemaat,77,Bulan Budaya,1,Bulan Keluarga,1,Bulan Kitab Suci,1,Daur Majelis,2,Essay,10,Foto,123,Gereja Suaka Iklim,3,Hari Buruh,1,Hari Doa Sedunia,3,HPPGA,2,HUT,3,HUT ke-135 Tahun,1,HUT RI 78,1,Ibadah,68,Ibadah Padang,1,Ibadah Syukur,20,Intergenerasi,3,Jumat Agung,2,Kafe Door,10,Kamis Putih,1,Kartini,3,Kelas Kreatif,12,Kelas Mulung,5,Kemerdekaan,3,Kerja Bakti,4,Kesekretariatan,23,Kespel,2,KPAR,36,KPAY,5,KPK,6,KPMG,2,KPP,11,KPPL,8,KPPM,32,KPPW,8,KPT,47,Lomba Agustusan,1,Majelis,1,MD Kediri Utara 2,17,Minggu Palmarum,1,Mulung,84,Natal,12,Oikumene,1,P2A,5,PA,3,Padus anak,1,Pamong,1,Paskah,11,Pekan Pemuda,1,Pemuda,23,Pendeta,6,Pentakosta,3,Perjamuan Kasih,2,Perjamuan Kudus,5,Pertanian Organik,4,PEW,15,PJS,1,Pokja Reportase,2,Poster Natal,1,PPerjamuan Kudus,1,Pra Paskah,8,Produk Cafe Door,3,Produk Jemaat,5,Produk Kelas Kreatif,2,Produk Pemuda,1,Program,8,Program Unggulan,40,PTWG,3,Renungan,50,Sabtu Sunyi,1,SALIB,1,Sejarah,4,Sidang MD,1,Tahun Baru,3,Teologi,27,Tokoh,5,Tupel,1,UEM,2,UKDW,1,Unduh-unduh,5,Warga,27,Wartawan Cilik,8,
ltr
item
GKJW Jemaat Tunglur: Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (9b)
Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (9b)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge6xhhmNSJVlc-jAlxXXLKzTzSNJ_Q__d7qiCpRIRlmCjw5dfrKfrC0uuriUdaLPV-YyjOJrJhjh0W133JtKe2tnxquQRNYMFmFTLGB42Hz0RdMT3yruy_IaEr2yWgPvi97qsTfKoDoYSw/s1600/cross-wallpaper-18.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge6xhhmNSJVlc-jAlxXXLKzTzSNJ_Q__d7qiCpRIRlmCjw5dfrKfrC0uuriUdaLPV-YyjOJrJhjh0W133JtKe2tnxquQRNYMFmFTLGB42Hz0RdMT3yruy_IaEr2yWgPvi97qsTfKoDoYSw/s72-c/cross-wallpaper-18.jpg
GKJW Jemaat Tunglur
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/04/seri-doa-bapa-kami-rasa-indonesia-9b.html
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/04/seri-doa-bapa-kami-rasa-indonesia-9b.html
true
6179814512795437537
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy