Jika Tuhan Tak Benar-benar Ada

"Jika Tuhan tak benar-benar ada, lalu?"

Identitas

Kadang saya tersenyum, mengapa orang-orang itu masih ribut berapologetis, membela ajaran agamanya. Menjelaskan dengan begitu rasional doktrin dan segala hal yang mereka percayai, walaupun nyatanya di beberapa tempat, nyatanya agama memang tidak rasional. Maka melihat orang-orang yang sampai bertengkar bahkan bermusuhan atas nama agama, atau sesama agama, hanya karena masalah ajaran yang berbeda, untuk apa semua itu?

Namun ada sesuatu yang menarik dari beragama di Indonesia. Di negeri ini agama adalah identitas, dan karena itu menjadikannya begitu penting. Walaupun praktik mulai tidak percaya pada kuasa Tuhan dan digantikan oleh kemampuan diri menjadi semakin kuat, namun orang-orang yang demikian pun akan tetap berbangga mengatakan agama saya adalah ini. Identitas menjawab dua pertanyaan penting dalam kehidupan, "Siapakah saya?" dan "Untuk apa saya hidup?"

Dalam hidup dua pertanyaan itu tidak tergantikan. Karena jika pertanyaan itu tidak terjawab, maka hidup menjadi tidak memiliki arah dan tujuan. Hidup ini semata-mata sia-sia. Tumpukan peristiwa tanpa makna. Dua pertanyaan tersebut adalah pertanyaan mendasar dan identitas adalah jawabannya. Misalnya saja ketika orang mengatakan, "Saya Jawa, karena itu saya..." "Saya Jawa, tetapi saya ..." Maka identitas Jawa itu memberikan makna atas diri dan hidupnya. Dan agama berada di sini. Sekalipun agama yang dimaksudkan tidak selalu enam agama Nasional, ada juga orang yang mengatakan, "Musik adalah agama saya, dan Bob Marley adalah nabinya." Demikian pun boleh.

Namun jika menelusur sejarah agama-agama premis di awal mengapa orang lantas berapologetis itu kembali menarik. Agama-agama lahir dari kenyataan manusia bahwa dirinya terbatas. Dan jika dirinya terbatas, maka ada yang tidak terbatas. Manusia bisa menanam padi, tetapi manusia tidak bisa mengatur pertumbuhan padi yang ditanamnya. Ada sesuatu yang melampai dirinya bahkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dari sanalah konsep tentang Tuhan lantas muncul. Ada Tuhan yang mengatur semuanya, karena nyatanya manusia melihat kehidupan di sekitarnya. Bagi orang beragama. konsep Tuhan selalu berkait dengan Kehidupan. Karena kehidupanlah yang memberi makna pada Tuhan, pada saat yang sama Tuhan memberi makna pada Kehidupan.


Sejarah Agama-agama dan Konsep Tuhan

Namun mari melihat sejarah lahirnya agama-agama. Pada masa yang paling awal, manusia menyembah matahari, laut, tanah, angin, dll. Karena hal-hal tersebut memberikan pengaruh dalam kehidpan mereka. Karena itu kita mengenal Ra, Zeus, Hera, Demeter, Baal, Apsu, Apsan, Tiamat, Ishtar, Frey, Freya. Mereka menyebut itu Tuhan dengan matahari, bulan, planet, langit, angin, dll sebagai simbol kehadirannya. Bagaimana kita mengenal lingga dan yoni sebagai wujud kesuburan, adalah bentuk paling purba dari betapa pentingnya Kehidupan, karena perlu ada simbil yang kemudian diwujudkan di sana. Dan dari sanalah konsep tentang yang Ilahi, Tuhan itu lantas muncul.

Dari keenam agama di Indonesia, Hindu adalah agama yang paling tua. Muncul pada 3102 SM sampai 1300 SM di tanah India. Disusul Buddha dan Konghuchu pada abad ke-6-7 SM. Lalu Kristen dan Katolik (abad 1 M) dan terakhir adalah Islam (abad 7 M). Jika melihat agama-agama tersebut, maka ada sebuah pola yang menarik. Agama-agama awal (banyak agama sebelum Hindu, seperti kepercayaan orang-orang Mesopotamia, Mesir) berpola politeistik, lantas menuju jalan hidup (bahkan tanpa Tuhan yang personal), sedangkan agama-agama yang kemudian, dimulai dari Yahudi, menuju Kekristenan, dan kemudian Islam) berpola monoteistik. Dari Tuhan itu banyak dan terdapat dalam bermacam-macam entitas yang ada semesta menuju Tuhan yang satu yang semakin abstrak. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, seolah-olah menunjukkan pada kesatuan Tuhan dan monotheisme. Itulah mengapa lantas agama-agama awal sebelum Kekristenan dan Islam lantas mencoba bersesuaian dengan Sang Hyang Widhi dan Buddha (tentu saja ini menisbikan aliran-aliran denominasi dalam masing-masing agama).

Namun dari sana nampak bahwa Agama memiliki sejarah. Dan sejarah itu termasuk sejarah tentang Tuhan. Bahwa Tuhan pun ternyata dimaknai dengan berbagai macam cara. Maka pertanyaan awal kembali menarik, "Bagaimana jika bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebenarnya manusia yang menciptakan Tuhan?" Hal ini misalnya semakin kuat, misalnya pada agama-agama paling mutakhir, sebut saja Scientology dengan ajarannya tentang Tek, tethan, dan kebebasan jiwa yang semakin menghilangkan porsi Tuhan yang personal dan riil menjadi semakin konseptual dan abstrak. Orang tidak lagi melihat pada sosok, tetapi lebih pada jalan hidup. Dan bisa dimengerti mengapa banyak aliran atau ajaran di Indonesia dengan mudah disebut sesat, ada aliran sesat, ajaran sesat, dan sejenisnya. Bahkan tidak jarang disanding-sandingkan dengan setan. ajaran setan, gereja setan, dll.

Mungkin itulah mengapa atheisme menjadi berkembang sangat kuat hari ini. Dalam kehidupan yang semakin canggih, dengan berbagai penemuan fisika, astronomi, biologi, maka orang semakin meragukan keberadaan Tuhan. Bahkan orang semakin tidak  yakin bahwa Tuhan benar-benar ada. Tuhan lantas dianggap sebagai konstruk pikiran manusia yang tidak mampu hidup tanpa sesuatu yang besar untuk dijadikan sandaran. Dalam ketidakadilan yang sangat berat, dan kesulitan hidup yang luar biasa, orang butuh harapan. Bahwa sekalipun mereka mengalami penderitaan itu mereka membutuhkn kekuatan untuk terus Hidup. Karenanya sosok Tuhan menjadi sangat penting.

Tuhan ini membawa serta konsep tentang setan sebagai lawannya, Sorga-Neraka, dan termasuk etika/ moral. Konsep Tuhan juga membawa orang pada konsep kehidupan setelah kematian, dan sejenisnya. Ada konsep-konsep yang lantas perlu dipertentangkan untuk mengalami Hidup. Ada sorga-neraka (akhirat) dan ada dunia. ada baik dan ada buruk, ada kehidupan di dunia dan kehidupan kekal, ada Dharma, ada Karma, dan sebagainya. Dalam Kekristenan misalnya ada pernyataan, "Carilah dahulu Kerajaan Allah" untuk memperbandingkan ada kerajaan di dunia yang kadang bisa jatuh dalam budaya ketidakadilan, dan ada Kerajaan Allah yang sepenuhnya adil. Ada terang ada gelap.

Konsep Tuhan membawa manusia pada pernyataan, "Tidak apa-apa menderita di dunia asalkan mendapat nikmat di sorga." "Lakukan kebaikan supaya mendapat pahala." "Dosa kita telah ditebus dan harganya sudah lunas."

Namun kembali lagi pada pertanyaan bagaimana jika Tuhan ini ternyata bukanlah sebuah kenyataan, tetapi sebuah konstruk pikiran manusia  menderita yang membutuhkan harapan demi Kehidupan. Mencoba memaknai Hidup. Karena konsep agama apa pun punya dalil yang pertama, bahwa Tuhan itu ada. Baru dari sanalah muncul ajaran dan segala hal yang ada di dalamnya, nabi, kitab suci, jalah hidup, dan sejenisnya. Bagaimana jika yang dipertanyakan bukan ajarannya, tetapi dalil pertama tersebut. Bagaimana jika Tuhan tidak ada?


Kisah Penciptaan dalam Kejadian dan Big Bang

Kisah penciptaan tujuh hari di Kitab Kejadian tentu sangat menggelikan bagi para ilmuwan hari ini. Kisah penciptaan itu adalah dalam wadah kosmologi Ibrani kuno bahwa bumi datar, ada selubung di atasnya semacam selimut yang bernama cakrawala. Matahari berada di dalam selubung itu, Bumi adalah pusat dari semesta. Di atas cakrawala ada air, yang jika jendela (tingkap) di cakrawala itu dibuka maka air di atasnya akan turun, dan dari sanalah lahir hujan, pembawa kehidupan. Hujan selalu konsep yang menarik dalam keyakinan apa pun. Di konsep Agama Samawi, Yahudi, Kekristenan, dan Islam (yang semakin bisa dimengerti karena lahir dari Timur Tengah yang tandus), maka hujan sangat dibutuhkan. Bahasa dalam Maleakhi 3: 10 tentang Tuhan yang membuka tingkap langit dan menurunkan berkat semakin bisa dimengerti, bahwa hujan adalah berkat, dan itu terjadi ketika jendela cakrawala dibuka.

Hari ketujuh adalah hari yang penting, karena hari tersebut adalah Hari Sabat. Enam hari manusia bekerja (dalam numerologi Yahudi angka 6 adalah angka manusia), pada hari ketujuh manusia berhenti seperti Tuhan yang berhenti menciptakan dunia dan pada hari ketujuh memberkati ciptaannya. Maka pada Hari Minggu orang berhenti bekerja. karena hari ketujuh itu adalah hari berkat. Kalender pun, karena kalender gregorian yang dipakai sekarang punya keterikatan kuat dengan tradisi Kristen, maka hari ketujuh digunakan sebagai hari libur dalam seminggu. Angka tujuh dalam numerologi Yahudi memang angka berkat. Angka berkat Tuhan adalah tujuh. Karena itu dari sana muncul istilah-istilah seperti Sabbath, Shavu'ot (49 hari setelah Paskah Yahudi), Tishri (bulan ketujuh), Shemitah (tahun ketujuh tahun peristirahatan tanah), Yobel (tahun keempat puluh sembilan, tujuh kali tujuh). Termasuk tentang Kekal berangka tujuh (1 untuk Adam, 3 Abraham, 5 Mesias, dan 7 adalah kerajaan, masing-masing berjarak 2000 tahun, karena itu dikatakan kerajaan Kekal itu adalah kerajaan 1000 tahun, kerajaan tahun ke-tujuh ribu.

Bahasa Ibrani menyebut huruf ketujuh mereka (yang juga digunakan sebagai angka tujuh), zayin. Tradisi itu berasal dari Funisia (Semit purba), yang lantas menurun dalam rumpunnya, termasuk di dalamnya Ibrani, Aram, Siria, dan Arab. Zayin merepresentasikan 'yashar', terang dari Tuhan untuk manusia atau 'or chozer' kembalinya terang. Zayin adalah waw (angka keenam) dengan mahkota di atasnya. Waw adalah angka manusia, waw bermahkota adalah kepenuhan. Karena itu huruf zayin adalah huruf untuk perempuan yang berani/ bermartabat adalah mahkota bagi suaminya. Kepenuhan dalam keluarga. Dalam Gematria, zayin berarti pengertian/ pengetahuan. Zayin  memiliki makna yang paradoksal karena berarti pedang atau senjata tetapi juga berarti berkat atau makanan. Demikianlah angka tujuh menjadi angka yang penting dalam penciptaan.

Namun kisah penciptaan tujuh hari hanyalah versi pertama dari kisah penciptaan tujuh hari di Alkitab. Kisah penciptaan tujuh hari terdapat dalam Kej. 1: 1-2:4a. Berikutnya kita menemukan kisah penciptaan yang sama sekali lain dari Kej. 2: 4b-7. Dalam kejadian 2: 4b dikatakan bahwa penciptaan dimulai ketika TUHAN Allah menurunkan hujan di atas bumi. Tidak disebutkan berapa hari diciptakan, tetapi begitu hujan maka TUHAN Allah menciptakan dunia. Nampak sekali lagi betapa pentingnya hujan. Pentingnya hujan ini sebenarnya tidak hanya muncul di Yahudi, kisah Sampek Engtay dan Imlek, kisah Sintren (kamajaya dan kamaratih), paparuda di Romanis, perperuna di Slavia, Tarian Hujan bangsa Zuni bangsa asli Amerika, di Mesir, dll.

Karena itu  ada 2 kisah pencitaan manusia di Kej. 1: 26-28 dan di Kej. 2: 7. Di Kej. 1 manusia diciptakan sudah berpasangan, tetapi di Kej. 2 hanya pria yang diciptakan dan benama Adam [dalam bahasa Ibrani berarti manusia, adam dari adama (berarti tanah), manusia dari tanah]. Hawa baru muncul dalam Kej 2: 18-25. Memperhatikan sungguh-sungguh bacaan itu maka akan ditemukan ada 2 nama Tuhan yang disebutkan berbeda. Dalam Kej. 1:1-2:4a Tuhan disebut Allah (Elohim) dalam Kej. 2:4b Tuhan disebut TUHAN Allah (YHWH Elohim). Dari sanalah akhirnya muncul teori sumber yang sampai hari ini diikuti oleh para teolog, bahwa Tora sebenarnya ditulis oleh empat kelompok yang berbeda tetapi digabungkan/ diredaksi menjadi satu. Kej. 2: 4b dan seterusnya ditulis oleh kelompok yang lebih tua,  yaitu kelompok Yahweis/ Y (yang menyebut Tuhan dengan YHWH/ TUHAN) dan ditambahkan oleh kelompok Elohis/ E (yang menyebut Tuhan dengan Elohim/ Allah) menjadi TUHAN Allah (YE). Dan Kejadian 1:1 - 2:4a ditulis oleh kelompok yang lebih baru, kelompok Priest/ P untuk merevisi atau menyempurnakan tulisan YE untuk memberikan makna rohani pada kisah penciptaan. Karena itu dari kelompok P yang diduga adalah para imam inilah angka tujuh sebagai angka sabat ditekankan.

Ini mungkin akan membawa orang pada kesimpulan yang begitu tergesa-gesa, seperti bertanya, "Jadi mana yang benar?" atau pernyataan, "Jadi kitabnya berubah-ubah." Tentu saja bisa dibaca demikian, tetapi saya mengatakan ini tergesa-gesa, karena ini lantas menganggap agama menjadi begitu trivial, remeh temeh. Sama halnya ketika orang mengatakan Kabah didirikan oleh Ibrahim di Mekah, padahal kelompok Mekah baru muncul Abad 1-2 M, berbeda sekali dengan kronologi Ibrahim yang diperkirakan hidup tahun 4000an SM, maka kabah itu tidak asli, Kesimpulan demikian ini sangat terburu-buru dan bisa dijamin tidak penuh pertimbangan. Namun yang bisa dilihat adalah bahwa konsep tentang Tuhan berkembang dalam sejarah, bahkan hanya dengan melihat kisah penciptaan di Alkitab yang sama. Jika melihat bagian selanjutnya dalam kitab-kitab di Alkitab termasuk Perjanjian Baru, maka semakin kuat ditemukan bahwa di Kitab-kitab yang terdahulu. Tuhan itu sangat antropomorfis, seperti manusia yang bisa marah, cemburu, berjalan, membelakangi, bahkan bisa dijumpai oleh Musa. Tetapi tulisan-tulisan yang kemudian, Tuhan semakin abstrak, paling jauh hanya bisa dijumpai lewat mimpi atau penglihatan.

Para ilmuwan hari ini lebih meyakini bahwa penciptaan atau mereka tidak akan menyebutnya demikian karena kata pencitaan menunjukkan bahwa ada Sang Pencipta, bagi mereka kisah awal mula semesta adalah teori big bang. Berdasarkan pengataman mereka pada atom hingga bagaimana mereka meneropong dengan teleskop hingga menjelajah angkasa, memperhitungkannya dengan rumus-rumus fisika, relativitas, kuantum, yang hari ini jelas ini kita yakini sebagai kebenaran, jagad raya ini mulai ada dari peristiwa big bang kurang lebih 13,7 milyar tahun yang lalu. Ketika ada sebuah entitas yang sangat mampat lantas meledak dengan dahsyatnya, dari ledakan itu lahirlah atom, waktu, cahaya, bintang, galaksi, dan semuanya.

Kehidupan baru ada di bumi bemilyar tahun sesudahnya. Sehingga kisah penciptaan adalah kisah yang secara saintifik jelas-jelas tidak benar. Secara figuratif bisa saja berlaku, tapi tidak secara ilmiah. Entah ada Tuhan atau tidak ada Tuhan tetapi big bang itu terjadi. Konsep tentang Tuhan itu lantas menjadi semakin relatif. Bukan ajaran yang ditantang, kali ini yang ditantang adalah premis tentang asal muasal segalanya, Tuhan.


Ada Tuhan atau Tiada Tuhan

Jacques Derrida, bapak dekonstruksi, salah seorang pemikir posmodern itu pernah mengatakan bahwa sekalipun dia atheis tetapi hukum moral yang dihidupi dan dijaganya berhutang besar pada Kekristenan yang diajarkan di keluarganya ketika kecil. Jika ada sumbangsih luar biasa besar agama dan konsep Tuhan bagi dunia, hal tersebut adalah moral atau etika. Mengapa kloning masih menjadi masalah bagi banyak orang, bukan sekadar karena biaya besar untuk riset dan pengadaannya, tetapi karena moral. Mengapa korupsi menjadi masalah? Bukan sekadar karena ketidakadilan, kecurangan, ketidakjujuran, dan kemunafikan yang muncul di dalamnya, tetapi lebih dari itu karena moral yang bermain peran besar dalam melihatnya. Seorang Ayu Utami, penulis Indonesia, bahkan pernah mengatakan bahwa dia menyilakan seorang LGBT, itu hak mereka untuk diterima dan menerima keadilan yang sama dengan para heteroseksual, tetapi untuk bayi tabung dengan memilih-milih gen dipilih yang terbaik yang sekehendak hatinya, Ayu Utami menentangnya dengan keras, karena baginya itu playing God. "Di sanalah saya berbeda dengan kelompok liberal." demikian pernyataannyaa dalam tulisannya.

Konsep Tuhan membawa dampak yang sangat signifikan bagi Kehidupan. Dengan adanya Tuhan maka kehidupan menjadi Kehidupan (dengan huruf kapital). Konsep Tuhan memberikan makna bagi Hidup seseorang. Orang menjadi tahu siapa dirinya, yang adalah ciptaan. Dan tahu apa tujuan hidupnya, yaitu melakukan kehendak Tuhan.

Ketika seseorang mengerti bahwa dirinya adalah ciptaan, maka dia segera sadar akan keterbatasannya dan batasnya. Bahwa dia hidup di dunia, bahkan semesta ini berbagi rumah dengan ciptaan  yang lain. Dan kedudukan mereka sama. Maka ketidakadilan adalah jahat. Dan manusia menjadi memiliki tujuan dalam hidup melakukan kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Sama seperti Tuhan yang baik, benar, dan adil. Hidup menjadi punya cermin, proyeksi. Hidup menjadi tidak rakus, seperti yang dikatakan Gandhi, "The world has enough for everyone's needs, but not everyone's greed."

Kisah penciptaan sekalipun berbeda, itu karena orang pada masa itu memaknai dunia dengan cara itu. Hari ini orang bisa berbicara internet karena ada internet. Sebelum ada internet orang tidak akan berbicara internet. Sebelum ditemukan bahwa bahwa bumi bulat dan bumi mengelilingi matahari. Orang tahu bahwa bumi itu datar dan matahari mengelilingi bumi. Karena mereka berpikir dengan cara mereka hari itu. Karena itulah dalam teologi, pembacaan Alkitab selalu disertai dengan hermeneutika/ penafsiran. Dan tafsiran selalu bergerak bersama gerak Kehidupan dan selalu menuju Kehidupan. itu menunjukkan bahwa Alkitab tidak bisa begitu saja dimaknai secara literer, bagi orang masa itu di situ, mungkin itu tepat, tetapi bagi orang lain di tempat lain, dalam situasi yang lain, bisa sangat berarti. Demikianlah pertentangan apologetis yang satu menyerang agama yang lain, karena cara pembacaan yang berbeda atas sebuah teks. Yang satu membaca dengan perspektifnya yang lain membaca dengan perspektif yang lain.

Adanya Tuhan memberikan makna bagi Kehidupan. Namun toh tidak selalu demikian. Ada juga orang-orang menyalahgunakan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Menjual Tuhan untuk kepentingan ekonomi, politik, atau sosialnya. Kisah yang sangat terkenal tentu kisah tentag Gandhi yang masuk ke dalam gereja kulit putih karena begitu terpukau oleh Khotbah di Bukit tapi ditolak oleh orang-orang kulit putih itu. Ssetelahnya Gandhi tidak pernah masuk lagi ke gereja. Kecintaan Gandhi pada Khotbah di Bukit tidak luntur, tapi pandangannya pada orang Eropa, Inggris pada waktu itu berubah sama sekali. Maka mungkin bukan pada konsep Tuhan, tetapi bagaimana mereka membaca Tuhan itu yang terbatas dan mereka merasa bahwa mereka adalah Tuhan yang bisa menerima dan menolak orang sekehendaknya. Kisah indulgensia gereja adalah sejarah pahit tentang itu. Peristiwa Jakarta beberapa waktu ini juga memiliki nuansa kuat tentang ini.

Namun ada orang-orang lain yang tetap menghargai Kehidupan walaupun mereka tidak mengakui adanya Tuhan. Mereka menyebut diri sebagai atheis tetapi mereka tetap memegang etika dalam hidup mereka. Bagi mereka ada atau tiadanya Tuhan tidak masalah, karena yang terbesar dari segalanya adalah merawat Kehidupan. Ada atau tiada Tuhan, Kehidupan tetap menjadi titik penting. Dari sanalah orang berbicara tentang perdamaian dan kesejahteraan.

Ada atau tiadanya Tuhan jawabannya  memang bukan di rasio. Tetapi pada iman. Jika seseorang beriman pada Tuhan, maka Tuhan menjadi berarti. Dan manusia nyatanya hidup tidak hanya dengan rasio, tetapi juga dengan iman. Bukan hanya kepala tetapi juga hati, dan iman memberikan jalan bagi hati untuk ikut berperan dalam hidupnya. Orang berbicara bahasa yang berbeda, tetapi orang menangis dan tertawa dengan cara yang sama.


Jadi...

Bagi saya, ajaran Kasih tanpa syarat dalam Kekristenan adalah yang paling tepat menurut saya. Mungkin untuk orang lain tidak, tapi demikianlah bagi saya. Sebenarnya tidak begitu masalah ada sorga atau tidak ada sorga, ada Tuhan atau tidak ada Tuhan. Tetapi bagi saya, saya percaya Tuhan itu ada. Seperti saya percaya sorga itu ada, karena dengan itu maka hidup saya menjadi punya pengharapan dan tujuan.

Iman memang bukan hal absolut, selalu relatif. Tuhan pun bahkan bisa direlatifkan. Tetapi saya tidak hendak ke sana. Karena bagi saya iman ini cukup. Kekristenan ini cukup. Orang mungkin mengatakan bahwa iman ini tidak rasional, dan saya katakan memang tidak. Saya menghargai kisah penciptaan di Kejadian sebesar saya menghargai penemuan para ilmuwan tentang big bang. Saya menghargai orang yang memilih agama lain karena memang mereka meyakini itu dengan sungguh-sungguh. Tetapi bagi saya sendiri Iman Kristen sudah lebih dari segalanya. Saya tumbuh di sini dan saya akan berjuang untuk setia di sini.

Benar, iman memang tidak rasional. Karena rasio dan kemampuan manusia berpikir sangat terbatas, apalagi hanya seorang manusia kecil dengan pengalaman yang terlampau kecil dibandingkan usia jagad raya yang begitu panjang. Sehebat-hebatnya rasio, akan selalu ada ruang misteri, ruang yang tidak dapat dimengerti, sederhana saja, "Jika dihitung-hitung gaji saya tidak cukup, namun kok saya masih bisa hidup sampai sekarang." "Sebenarnya rencana saya sudah matang, namun mengapa tidak berhasil, mungkin karena saya memasukkan kesombongan dan cinta diri juga dalam resep rencana saya." Dan itulah Tuhan yang mengatasi segalanya.

Namun iman saya ketika berjumpa dengan rasio, mereka tetap bisa bergaul dengan indah. Bahkan iman membuat hal  yang rasional tidak hanya rasional tetapi bermakna. Iman menjadikan hidup saya bermakna. Karena itu bagi saya iman itu super-rasional dan trans-rasional. Iman menghargai rasio dan segala penemuannya tetapi menambahkan sesuatu yang lebih besar ke sana: makna Kehidupan. Hidup bukan sekadar deretan peristiwa, tetapi deretan peristiwa yang bermakna. Tuhan adalah i dalam matematika, bilangan imajiner mereka menyebutnya, akar min 1, namun tanpa i bahkan kita tidak bisa berhitung apa pun. Padahal bilangan itu tidak masuk akal, tapi nyatanya ada. Demikianlah Tuhan dalam hidup saya. Tuhan adalah misteri, dan itu yang membuatNya menjadi lebih istimewa. Tuhan adalah Cinta. Mau buktinya? Banyak!

"Apakah Tuhan ada?" Saya akan menjawab, "Ada?" 
"Mana?" "Lihat saja sekelilingmu."
"Apa buktinya Tuhan ada?" "Iman saya."
"Kalau itu tidak cukup membuktikan?" "Tidak apa-apa.  Karena bagi saya itu cukup."

Maka tentang Tuhan, saya mengatakan, "Tidak ada Tuhan tidak masalah memang, tapi dengan adanya Tuhan hidup menjadi jauh jauh jauh jauh lebih Hidup." seperti ketika saya mengatakan kepada seseorang yang saya cintai, "Aku mungkin bisa bisa hidup tanpamu, tapi denganMu, hidupku menjadi sempurna." 



Pdt. Gideon Hendro Buono, bahan ini merupakan bahan katekisasi calon sidhi GKJW Jemaat Tunglur, Tema: Tuhan, dalam katekisasi disampaikan dengan lebih sederhana.

COMMENTS

Nama

15 Menitan,59,ACWC,2,adi yuswa,2,Adven,1,Baptis,3,Berita,170,Berita Jemaat,70,Bulan Budaya,1,Bulan Keluarga,1,Bulan Kitab Suci,1,Daur Majelis,2,Essay,10,Foto,112,Gereja Suaka Iklim,3,Hari Doa Sedunia,3,HPPGA,2,HUT,3,HUT ke-135 Tahun,1,HUT RI 78,1,Ibadah,59,Ibadah Syukur,17,Intergenerasi,3,Kafe Door,10,Kartini,2,Kelas Kreatif,12,Kelas Mulung,5,Kemerdekaan,3,Kerja Bakti,3,Kesekretariatan,23,Kespel,2,KPAR,36,KPAY,5,KPK,6,KPMG,2,KPP,11,KPPL,8,KPPM,32,KPPW,8,KPT,47,Lomba Agustusan,1,Majelis,1,MD Kediri Utara 2,16,Mulung,77,Natal,12,Oikumene,1,P2A,5,PA,3,Padus anak,1,Pamong,1,Paskah,6,Pekan Pemuda,1,Pemuda,23,Pendeta,5,Pentakosta,2,Perjamuan Kasih,1,Perjamuan Kudus,4,Pertanian Organik,4,PEW,15,PJS,1,Pokja Reportase,2,Poster Natal,1,PPerjamuan Kudus,1,Pra Paskah,1,Produk Cafe Door,3,Produk Jemaat,5,Produk Kelas Kreatif,2,Produk Pemuda,1,Program,8,Program Unggulan,40,PTWG,3,Renungan,50,SALIB,1,Sejarah,4,Sidang MD,1,Tahun Baru,3,Teologi,27,Tokoh,5,UEM,2,UKDW,1,Unduh-unduh,4,Warga,27,Wartawan Cilik,8,
ltr
item
GKJW Jemaat Tunglur: Jika Tuhan Tak Benar-benar Ada
Jika Tuhan Tak Benar-benar Ada
https://4.bp.blogspot.com/-BKxqNNr0iY4/WLz-wchmiNI/AAAAAAAABE0/qeVoGn_v3AQ0ZjStUjfXDTyTtN8qJS1ywCLcB/s1600/tumblr_static_big_6c54443910f9d50de6c568fbed7726e0532f77b4.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-BKxqNNr0iY4/WLz-wchmiNI/AAAAAAAABE0/qeVoGn_v3AQ0ZjStUjfXDTyTtN8qJS1ywCLcB/s72-c/tumblr_static_big_6c54443910f9d50de6c568fbed7726e0532f77b4.jpg
GKJW Jemaat Tunglur
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/03/jika-tuhan-tak-benar-benar-ada.html
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/03/jika-tuhan-tak-benar-benar-ada.html
true
6179814512795437537
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy