Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (8)

"... DAN KUASA ... [SAMPAI SELAMA-LAMANYA] ..."


Menyaksikan debat Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu belakangan ini rasanya membuat para penonton bertambah cerdas. Komentar di media sosial tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi dari seluruh penjuru tanah air, bahkan dunia. Ada beberapa hal yang menarik mengenai Pilkada Jakarta kali ini. Basuki TP (Ahok) yang sedang diperkarakan beberapa saat sebelumnya karena isu dugaan penistaan agama. Aksi-aksi kelompok radikal yang mengatasnamakan agama, Agus H. Yudhoyono yang mengundurkan dari dari militer dan menjadi calon gubernur, isu makar yang berhembus dan munculnya dugaan korupsi dari pasangannya, buzzer media sosial serta para hatters yang tiba-tiba membanjir, serta banyak hal lain yang membuat banyak penduduk yang sebelumnya enggan bicara politik akhirnya ikut bicara. Kekuasaan memang memesona.

Di sisi yang lain, Indonesia nampaknya tidak berhenti menjadi negara yang rawan pada penjarahan kayu hutan dan bahan mineral. Sebagai sebuah negara yang kepulauan yang luas, kekayaan tanah dan perairan Indonesia memang menggoda banyak orang untuk menguasainya. Ditambah lagi tingkat pendidikan dan kemiskinan yang masih cukup tinggi, menjadikan banyak pihak, termasuk asing yang tidak bertanggung jawab bisa menjarah dengan berbagai permainan. Kalimantan adalah saksi bisu atas kerakusan itu. Pada tahun 1985 73,7% wilayah pulau tersebut adalah hutan, dan pada tahun 2010 berkurang drastis hingga menyisakan 44,4% saja. Sekitar 30% wilayah Kalimantan yang dulu hutan hilang dalam kurang dari 25 tahun. Tentu saja penggunaan sebagian wilayah untuk pemukiman, tetapi menjadi sebuah rahasia umum bahwa pemukiman bukan alasan utama untuk itu.

Maka mengenang semangat ahimsa Mahatma Gandhi yang menyatakan, "There is a sufficiency in the world for man's need but not for man's greed." rasanya apa yang dinyatakannya tidak berlebihan. Jawa Timur menjadi cermin yang seru, apalagi ketika mengingat Lumpur Lapindo pada tahun 2006, hingga kini perubahan status Lapindo dari bencana karena ulah manusia menjadi bencana alam adalah hal yang tetap dipertanyakan banyak orang. Daerah Tapal Kuda Jawa Timur yang dulu merupakan pusat hutan di Jawa Timur habis. Kebutuhan air di Jawa Timur yang berpenduduk 38,3 juta jiwa, kedua terbanyak di Indonesia, Di Jawa Timur dari 117 mata air yang ada, hanya tersisa 53 sumber. Bahkan, ketika musim kemarau datang, hanya tersisa 3 (tiga) sumber. Data penelitian Walhi tahun 2010, menunjukkan bahwa 125 juta (65%) penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa dengan kapasitas kandungan air yang hanya 4,5% saja. Melihat kebutuhan dibandingkan dengan ketersediaan tentu memprihatinkan. Dan jika terkait itu berbicara kekuasaan untuk kepentingan pribadi, lantas menghalalkan segala cara, jelas tidak manusiawi.

Untuk sebuah negara yang religius, keprihatinan atas kondisi sosial, politik, ekonomi, dan ekologi ini seharusnya ikut menjadi bagian kajian dalam berprogram agama. Sayangnya banyak gereja - saya kurang tahu dengan umat beragama lain, walaupun mungkin bisa menduga - Tuhan adalah pembicaraan di mimbar gereja dan doa-doa. Dan Tuhan yang dimaksudkan bukanlah Tuhan yang ramah pada keadaan sosial ini, tetapi lebih cenderung Tuhan yang begitu mengasihi manusia tertentu dengan segala permasalahan sehari-harinya. Tuhan adalah tukang beres-beres masalah orang, dari masalah yang pelik sampai masalah yang sebenarnya bukan masalah. Dan ada jenis orang yang apa pun diadukan kepada Tuhan. Alih-alih mandiri atau berkarya bagi Tuhan, yang ada adalah Tuhan harus ada untuk kusandari. Setiap saat, di mana pun juga.

Tentu berbicara mengenai masalah, tidak ada masalah yang rela disebut remeh temeh. Tidak mungkin seorang pemuda yang putus pacaran akan menganggap masalahnya sepele, tetapi berbicara Tuhan yang berkuasa, maka seolah-olah kekuasan Tuhan itu dibatasi di dalam gedung gereja dan urusan pastoral pribadi saja. Manusia semuanya berharga, justru karena itulah maka kita perlu segala sesuatunya dengan lebih luas, tidak sekadar perkara saya dan kelompok saya. Dengan kata lain, dalam lingkup yang sempit, tak ada bedanya antara kita yang menye-menye dengan kelompok yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadinya. Memonopoli Tuhan untuk saya sendiri.

Maka berdoa Bapa Kami mengingatkan kita pada kekuasaan Tuhan yang selama-lamanya. Kesadaran ini bukan kesadaran enteng, kesadaran itu membuat kita berani berkata tidak bijaksana memonopoli Tuhan atau mengkotakkan kuasaNya hanya untuk diri kita sendiri saja. Religiusitas seharusnya memengaruhi spiritualitas dan nilai hidup seseorang. Jika tidak, bisa jadi religiusitas hanya sebuh gema yang semakin terdengar samar begitu berdekatan dengan kenyataan hidup. Dan itu kadang dimulai bukan dengan sekadar membaca teks masa lalu, tetapi juga dengan menghubungkan teks masa lalu itu dengan kenyataan masa kini.

"Manusia berkehendak, tetapi Tuhan yang menentukan." Pernyataan ini merupakan pernyataan iman yang sangat luar biasa. Namun pernyataan ini kadang didudukkan dalam kenyataan yang sangat sempit, "Apakah kekuasan Tuhan memihak saya?" Jika saya berlimpah dan penuh sukacita, terpandang, dan memesona maka Tuhan itu baik. Dan menjadi tidak sadar jangan-jangan dimaksud kehendak Tuhan hanyalah yang menyenangkan hatinya. Jika tidak maka mogok membolo Tuhan. Lupa melihat di sekeliling, melulu apa pun tentang dirinya atau kelompoknya.

Maka membaca konteks kerakusan yang begitu kuat di sekitar kita, bahkan begitu berpengaruh pada kehidupan bersama tersebut seharusnya mengingatkan kita betapa suara Kuasa Tuhan hari ini semakin sepi, digantikan hingar bingar kerakusan pribadi. Seolah seseorang yang ditawari oleh iblis untuk menyembahnya dengan imbalan diberikan segala hal yang dilihatnya dari atas gunung, dan diterima. Maka bisa jadi berani berkata tidak pada kerakusan pribadi dan kelompok, bahkan kerakusan religius bisa menjadi jalan berjumpa dengan pernyataan singkat Doa Bapa Kami yang seringkali diucapkan tersebut. Kali ini dengan kesadaran penuh.

Jika agama ini menjadi bagian permainan kekuasaan manusia, lantas apa lagi yang tersisa dari kehidupan spiritualitas ini, selain narsisisme dan egoisme. Pantas saja jika agama apa pun dalam pengajarannya selalu bernuansa altruis, karena kenyataan menunjukkan bahwa jika kita dibiarkan menyikat tempurung kita lebih mengkilap, yang kita temukan akhirya hanya diri kita. Begitu terus menerus. Dan ternyata lawan terbesar dari "... dan kuasa ... [untuk selama-lamanaya]..." tidak lain adalah apa yang hari ini sedang digemakan oleh media sosial pengagung diri sendiri tersebut. Biarkanlah agama berbicara tentang kasih dan kebaikan bagi semuanya, sehingga kuasa Tuhan itu akhirnya terus menggema kuat dan semakin kuat,  "di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi." untuk selama-lamanya. Kita terlalu kecil untuk menggantikan Tuhan, kita hanya debu bintang yang hari ini tumbuh, dan besok layu dimakan panas matahari.

COMMENTS

Nama

15 Menitan,59,ACWC,2,adi yuswa,2,Adven,1,Baptis,3,Berita,185,Berita Jemaat,77,Bulan Budaya,1,Bulan Keluarga,1,Bulan Kitab Suci,1,Daur Majelis,2,Essay,10,Foto,123,Gereja Suaka Iklim,3,Hari Buruh,1,Hari Doa Sedunia,3,HPPGA,2,HUT,3,HUT ke-135 Tahun,1,HUT RI 78,1,Ibadah,68,Ibadah Padang,1,Ibadah Syukur,20,Intergenerasi,3,Jumat Agung,2,Kafe Door,10,Kamis Putih,1,Kartini,3,Kelas Kreatif,12,Kelas Mulung,5,Kemerdekaan,3,Kerja Bakti,4,Kesekretariatan,23,Kespel,2,KPAR,36,KPAY,5,KPK,6,KPMG,2,KPP,11,KPPL,8,KPPM,32,KPPW,8,KPT,47,Lomba Agustusan,1,Majelis,1,MD Kediri Utara 2,17,Minggu Palmarum,1,Mulung,84,Natal,12,Oikumene,1,P2A,5,PA,3,Padus anak,1,Pamong,1,Paskah,11,Pekan Pemuda,1,Pemuda,23,Pendeta,6,Pentakosta,3,Perjamuan Kasih,2,Perjamuan Kudus,5,Pertanian Organik,4,PEW,15,PJS,1,Pokja Reportase,2,Poster Natal,1,PPerjamuan Kudus,1,Pra Paskah,8,Produk Cafe Door,3,Produk Jemaat,5,Produk Kelas Kreatif,2,Produk Pemuda,1,Program,8,Program Unggulan,40,PTWG,3,Renungan,50,Sabtu Sunyi,1,SALIB,1,Sejarah,4,Sidang MD,1,Tahun Baru,3,Teologi,27,Tokoh,5,Tupel,1,UEM,2,UKDW,1,Unduh-unduh,5,Warga,27,Wartawan Cilik,8,
ltr
item
GKJW Jemaat Tunglur: Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (8)
Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (8)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidnFm707y3R2nWtAb5A_OhBWpY4Zor_9BxChDuQ7C-sFCamTM4SZTmx2dDP-k7xLkyaHxaFVx_WaPc-RBCxWd8GFvWVrETKS3C1UM3ugmugXDtb33IWEntxAAwHAGGlQmXp4tN48OwOik/s1600/bDSC_0056.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidnFm707y3R2nWtAb5A_OhBWpY4Zor_9BxChDuQ7C-sFCamTM4SZTmx2dDP-k7xLkyaHxaFVx_WaPc-RBCxWd8GFvWVrETKS3C1UM3ugmugXDtb33IWEntxAAwHAGGlQmXp4tN48OwOik/s72-c/bDSC_0056.jpg
GKJW Jemaat Tunglur
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/02/seri-doa-bapa-kami-rasa-indonesia-8.html
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/02/seri-doa-bapa-kami-rasa-indonesia-8.html
true
6179814512795437537
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy