Sabtu, 4 April 2026, GKJW Tunglur melaksanakan ibadah Sabtu Sunyi dengan penuh penghayatan dan suasana yang tenang. Ibadah dipimpin oleh Ibu Pendeta Sri Rahayu dan diikuti oleh seluruh warga jemaat dengan hati yang teduh, mempersiapkan diri menyambut sukacita Paskah.
Suasana ibadah berlangsung berbeda dari biasanya. Gereja dipenuhi keheningan, lampu dibuat lebih redup, dan jemaat diajak masuk ke dalam perenungan yang mendalam. Sabtu Sunyi merupakan hari di antara Jumat Agung dan Paskah, saat umat Kristen mengenang Yesus Kristus yang telah wafat dan dimakamkan.
Bagi umat Kristen, Sabtu Sunyi memiliki arti sebagai waktu untuk berhenti sejenak, merenungkan kasih dan pengorbanan Tuhan, serta menyadari bahwa di tengah kesunyian sekalipun, Allah tetap bekerja. Hari ini menjadi pengingat bahwa setelah penderitaan dan dukacita, Tuhan menyiapkan pengharapan dan kemenangan.
Disebut “Sabtu Sunyi” karena pada hari inilah suasana menjadi begitu hening. Setelah penyaliban Yesus pada Jumat Agung, dunia seakan diam. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada sukacita, hanya keheningan dan penantian. Karena itulah ibadah Sabtu Sunyi dilakukan dengan suasana yang tenang dan sunyi, agar jemaat dapat benar-benar menghayati perasaan kehilangan, penyesalan, dan pengharapan para murid ketika menantikan kebangkitan Kristus.
Dalam ibadah tersebut, warga jemaat diberikan waktu khusus untuk berdoa secara pribadi. Satu per satu jemaat maju ke depan altar, bersujud dengan penuh kerendahan hati. Di hadapan Tuhan, mereka membawa harapan, pergumulan, dan doa-doa bagi keluarga, pekerjaan, kesehatan, maupun kehidupan jemaat. Mereka juga memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
Sujud di depan altar menjadi simbol penghayatan Sabtu Sunyi. Sikap tubuh yang merendah ini menggambarkan penyesalan, pertobatan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam keheningan itu, jemaat diajak untuk menyadari kelemahan manusia, tetapi sekaligus percaya bahwa kasih Tuhan selalu membuka jalan pengampunan.
Momen ini menjadi saat yang sangat menyentuh bagi seluruh warga jemaat GKJW Tunglur. Tidak sedikit jemaat yang meneteskan air mata ketika berdoa dan bersujud di depan altar. Dalam sunyi, setiap orang diajak berbicara dari hati ke hati dengan Tuhan, menyerahkan segala beban dan dosa, serta menantikan terang kebangkitan Kristus pada Hari Paskah.
Ibadah Sabtu Sunyi di GKJW Tunglur akhirnya menjadi sebuah perjalanan iman yang mendalam. Di tengah keheningan, jemaat belajar bahwa Tuhan hadir bahkan saat hidup terasa sunyi. Dari suasana yang hening itu, tumbuh pengharapan baru, bahwa kasih Tuhan akan selalu membawa setiap orang menuju terang dan kehidupan yang baru.
Foto Oleh : Sdr. Tristan,Sdr. Nanda, Ank. Riko
Artikel Oleh : Sdr. Tristan





































































COMMENTS