Kartini dan Kesaksian GKJW

Dalam buku yang diterbitkan dari surat-surat Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” beberapa kali Kartini menyebutkan Nama Mojowarno. Kartini memuji pekerjaan Zending di Mojowarno, khususnya pendidikan bidan di sana pada waktu itu (awal tahun 1900an). Dia merasa bahwa bisa pergi ke Mojowarno akan membawa kebaikan dan kedamaian bagi jiwanya (Surat kepada Ny. Abendanon, 31 Januari 1901). Dia melihat betapa senangnya seorang perempuan bisa bebas melakukan pekerjaan sosial bagi orang lain dan tidak terkurung oleh penjara jiwa dalam budaya masyarakat Jawa pada waktu itu. “Bukankah musuh dari luar yang melemahkan kami, kami tiadalah takut akan dia, melainkan musuh di dalam yang memakan jiwa, hati, otak kami! Tiada suatu apa jua pun yang dapat melipur hati kami, tiada seorang jua pun yang dapat menolong kami, lain daripada Tuhan dan kami sendiri!” (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 11 Oktober 1902). Walaupun Mojowarno tidak pernah menjadi pilihan pertamanya, karena menjadi bidan memang bukan cita-citanya, namun itu lebih menentramkan daripada tidak melakukan apa pun dan hanya menuruti tradisi yang mengekang jiwa.

Namun bukan hanya itu, Kartini juga menuliskan kritiknya pada pendidikan bidan di sana. Pendidikan bidan di Mojowarno bernuansa agamis, sehingga dia menduga secara politis ada tujuan untuk mengkristenkan orang. “Betapa pikiranmu tentang zending yang hendak berbuat baik kepada rakyat di Pulau Jawa, semata-mata oleh karena kemauan rasa kasih, jadi zending yang maksudnya bukan hendak mengajak orang memeluk agama Nasrani, dan yang menjauhkan semua agama daripada usahanya? Apakah salahnya jika usaha seperti di Mojowarno dilakukan di kota-kota lain juga, usaha yang sama sekali tiada berpanji-panji agama?” (Surat kepada Tuan E.C. Abendanon, 31 Januari 1903). Kartini sadar penuh bahwa hal baik, jika dilatarbelakangi oleh semangat politis akhirnya hanya akan menimbulkan perpecahan. Dalam era Kartini terjadi jarak antara orang Islam dan orang Kristen telukan pada waktu itu, bahkan mereka ‘terpaksa menjadi musuh’, demikian yang ditulisnya.

Tercatat dalam tulisan R. Soedibjo Mariso, bahwa pada tahun 1899 Kartini telah datang ke Mojowarno, ke sekolah bidan yang ada di sana. Nyata bahwa pelayanan zending/ pekabaran Injil telah mengubah wajah Jawa terutama melalui kesaksian dan pelayanan sosial yang benar-benar dirasakan. Cikal Bakal GKJW di Mojowarno memberikan dampak bagi gerakan emansipasi perempuan yang dilakukan oleh Kartini. Gereja kita nyata telah memberikan sumbangsih pada kehidupan bernegara kita. Walaupun demikian, kritik Kartini tadi, jelas tidak bisa dianggap sepele.

Pada hari-hari ini, seluruh Indonesia sedang bergiat untuk mengadakan perayaan Hari Kartini. Beraneka macam caranya, ada yang dengan mengadakan kegiatan sosial, ada yang mengadakan penyuluhan, ada juga yang meneruskan tradisi lomba berbusana daerah –yang entah apa hubungannya dengan perjuangan Kartini pada waktu itu. Tapi baiklah, karena tidak semua negara punya hari khusus untuk menghargai perempuan seperti di Indonesia. Bahkan GKJW menjadikan Hari Kartini sebagai salah satu peringatan yang dirayakan di gereja.

Peringatan Hari Kartini ini mengingatkan pada sejarah gerakan perempuan GKJW (pada saat itu belum GKJW, namun cikal bakal GKJW). Pada masa-masa tahun 1900an awal, para perempuan mengadakan perjalanan dari rumah ke rumah untuk pelayanan kesehatan, dari sana lahir Rumah-rumah Sakit GKJW, seperti RS. Mardi Waluyo di Malang (berkat perjuangan Suster Helzebus dan 3 suster bumiputera), RS. Rekso Wanita Mojokerto (sekarang Reksa Waluya), dan pelayanan-pelayanan kesehatan lainnya. Bersama dengan para perempuan kristen lain di Jawa Tengah, mereka memiliki media massa bernama KWW Mawar. Bahkan jika melihat lebih ke belakang kita tentu mengingat bahwa penyebaran Kekristenan di Surabaya tidak mungkin bisa dilakukan oleh Johanes Emde, jika tidak dengan bantuan istrinya, Amarentia Manuel, dan anak perempuannya, Johanna Wilhelmina. Perempuan mempunyai peran besar dalam sejarah. Perjuangan para perempuan ini memang sempat mengalami gejolak pada tahun 1965, tetapi perlahan-lahan kembali bangkit. Hari ini Pendeta perempuan di GKJW semakin bertambah, bisa dilihat dalam beberapa tahun lagi jumlah Pendeta perempuan dengan laki-laki bisa seimbang atau malah bisa lebih banyak. Program-program bertemakan kesetaraan gender (baca: jender) terus tumbuh, hasilnya bervariasi di tiap jemaat.

Perjuangan para perempuan untuk ikut serta dalam mengabarkan Injil Kristus ini menunjukkan sebuah kenyataan bahwa karya Kristus tidak pernah terbatas hanya oleh dan untuk kelompok gender tertentu saja. Semuanya dihargai, semuanya diterima, semua ditumbuhkan, semua bisa ikut berkarya bagi Tuhan. Kuncinya adalah iman. Ketika seseorang sudah beriman dengan sungguh-sungguh, maka panggilannya jelas, yaitu menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus dihayati oleh GKJW sebagai upaya menjadi rekan kerja Allah mewujudkan tanda-tanda hadirnya kerajaan Allah bagi dunia. Artinya membuat dunia ini dekat dengan gambaran Kerajaan Allah, yang adil, penuh kebebasan, penerimaan, persaudaraan, kesetiaan, damai sejahtera, tidak ada ratap tangis dan air mata.

Namun mengapa hari ini keberanian kita bersaksi seringkali dipenuhi keraguan? Dulu para perempuan bisa berkarya dengan begitu luar biasa sampai tingkat nasional, namun banyak persekutuan perempuan atau bahkan gereja secara umum hari ini hanya melihat kesaksian mereka ke dalam. Mengurus organisasi gereja, dana gereja, kebaktian-kebaktian, urusan-urusan internal lainnya, sehingga keterlibatan kita di masyarakat kurang dirasakan. Bisa jadi karena dua hal utama. Dua hal ini juga yang menjadi kunci kesaksian kita.

Pertama, bersaksi tidak sama dengan meng-Kristen-kan orang. Label agama Kristen menjadi nomor sekian setelah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Kita bersaksi bukan untuk menjadikan orang beragama Kristen, tapi untuk membuat mereka merasakan karya Kristus. Jika tidak, bisa sama seperti kritik Kartini, kebaikan kita sebenarnya hanyalah kebaikan politis, kebaikan yang berembel-embel. Kebaikan yang bersyarat. Jika semangat bersaksi kita ada dalam bayang-bayang meng-Kristen-kan, patutlah kita menjadi khawatir dan ragu-ragu. Namun jika semangat kita tulus untuk menyatakan hadirnya Kerajaan Allah, sebagai wujud dari iman kita, maka kita tidak perlu takut dan ragu-ragu. Jalan saja!

Bagaimana membedakan kesaksian untuk mengKristenkan orang dan kesaksian untuk karya Kristus, lihat dari buahnya. Buah yang baik lahir dari kesaksian yang baik. Buah ini tidak datang begitu saja, tetapi kadang bersama dengan waktu, proses. Karena itulah mengapa dalam bacaan Injil kita, pengampunan adalah perintah pertama Tuhan Yesus setelah Roh Kudusnya diberikan. Dalam keberanian iman kita untuk bersaksi, ada pengampunan yang selalu ikut serta. Kita berbuat baik dan dicurigai, kita mengampuni. Kita menolong orang lain dan ditolak, kita mengampuni. Kita disalahpahami, kita mengampuni. Jika sudah demikian tidak ada lagi beban. Kita tidak mencari jumlah, tapi kita ‘menyelamatkan jiwa’.

Kedua, jangan-jangan iman kita tidak berbeda dengan para murid. Iman kita baru tumbuh ketika kita melihat. Hari ini semakin jarang kita menemukan orang yang berani mengatakan, “Saya Kristen saya pasti selamat!” “Kristen ini adalah jalan saya, urip mati ndherek Gusti Yesus, bagaimanapun penderitaannya!”

Bisa jadi banyak orang takut menderita, apalagi menderita karena iman. Kenapa takut? Karena diam-diam kita belum benar-benar percaya bahwa jalan iman Kristen ini adalah jalan yang menyelamatkan. Jalan yang diatur dan disertai Tuhan. Mengapa? Karena kita belum melihatnya. Namun bukankah di sanalah iman berada. Iman justru hidup dalam ketidaknampakan. Iman melahirkan harapan. Nampaknya materialisme telah begitu kuat menyelusup masuk dalam kehidupan kita bahkan hingga kehidupan iman kita. Hingga iman pun baru berarti ketika sudah ada buktinya. Semua harus ada buktinya dalam bentuk fisik. Dan kita menjadi ragu untuk berani menderita dan berbahagia dalam penderitaan di jalan iman itu.

Kita memang senang dan bangga beragama Kristen, ber-Tuhan Yesus, tapi tidak sampai “Matia aku tetep setya!” (Sampai matipun aku tetap setia). Karena itu ketika kesulitan datang, kadang kita lalu memilih untuk melakukan pilihan lain yang bahkan tidak dikehendaki Tuhan. Kristen tapi takut miskin, Kristen tapi takut susah, Kristen tapi takut dinilai orang begini dan begitu. Kalau kita percaya Tuhan hadir dan menyertai, mengapa masih takut? Yesus yang mati saja dibangkitkan. Justru melalui penderitaan itulah iman kita dimurnikan.

Hari ini kita merayakan perjuangan Kartini, namun kita juga merayakan perjuangan iman dalam Kristus. Semoga kita semakin diberikan keberanian oleh Tuhan untuk berpegang teguh menghidupi iman kita, mewujudkannya dalam kasih dan pengampunan, serta keberanian bersaksi bagi Kristus. Roh Kudus kiranya menyertai perjalanan iman kita. Karena bagi kita yang mau sungguh-sungguh dalam iman ini, penderitaan bahkan kematian bukan akhir, tetapi habis gelap terbitlah terang.

COMMENTS

Nama

15 Menitan,59,ACWC,2,adi yuswa,2,Adven,1,Baptis,3,Berita,185,Berita Jemaat,77,Bulan Budaya,1,Bulan Keluarga,1,Bulan Kitab Suci,1,Daur Majelis,2,Essay,10,Foto,123,Gereja Suaka Iklim,3,Hari Buruh,1,Hari Doa Sedunia,3,HPPGA,2,HUT,3,HUT ke-135 Tahun,1,HUT RI 78,1,Ibadah,68,Ibadah Padang,1,Ibadah Syukur,20,Intergenerasi,3,Jumat Agung,2,Kafe Door,10,Kamis Putih,1,Kartini,3,Kelas Kreatif,12,Kelas Mulung,5,Kemerdekaan,3,Kerja Bakti,4,Kesekretariatan,23,Kespel,2,KPAR,36,KPAY,5,KPK,6,KPMG,2,KPP,11,KPPL,8,KPPM,32,KPPW,8,KPT,47,Lomba Agustusan,1,Majelis,1,MD Kediri Utara 2,17,Minggu Palmarum,1,Mulung,84,Natal,12,Oikumene,1,P2A,5,PA,3,Padus anak,1,Pamong,1,Paskah,11,Pekan Pemuda,1,Pemuda,23,Pendeta,6,Pentakosta,3,Perjamuan Kasih,2,Perjamuan Kudus,5,Pertanian Organik,4,PEW,15,PJS,1,Pokja Reportase,2,Poster Natal,1,PPerjamuan Kudus,1,Pra Paskah,8,Produk Cafe Door,3,Produk Jemaat,5,Produk Kelas Kreatif,2,Produk Pemuda,1,Program,8,Program Unggulan,40,PTWG,3,Renungan,50,Sabtu Sunyi,1,SALIB,1,Sejarah,4,Sidang MD,1,Tahun Baru,3,Teologi,27,Tokoh,5,Tupel,1,UEM,2,UKDW,1,Unduh-unduh,5,Warga,27,Wartawan Cilik,8,
ltr
item
GKJW Jemaat Tunglur: Kartini dan Kesaksian GKJW
Kartini dan Kesaksian GKJW
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihlScr55noBkQ21nYcBkyqNCI-qkrDrb0CTg2AjlIVw_ZitrzxlzJ675Uvjxa294zh9EsmYsD_LTt8rDkiYCqCX9Ze8XbUU2Y9jrM71bWv3HTv4EZA5yCc8FPQIhXxWtRrM7k1xrv9B48/s1600/61f96dd360562afd1db7a0256e6faf73.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihlScr55noBkQ21nYcBkyqNCI-qkrDrb0CTg2AjlIVw_ZitrzxlzJ675Uvjxa294zh9EsmYsD_LTt8rDkiYCqCX9Ze8XbUU2Y9jrM71bWv3HTv4EZA5yCc8FPQIhXxWtRrM7k1xrv9B48/s72-c/61f96dd360562afd1db7a0256e6faf73.jpg
GKJW Jemaat Tunglur
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/04/kartini-dan-kesaksian-gkjw.html
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/04/kartini-dan-kesaksian-gkjw.html
true
6179814512795437537
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy