Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (4)

"…BERIKANLAH KAMI PADA HARI INI MAKANAN KAMI YANG SECUKUPNYA…"



Ada perubahan tone sejak kalimat ini, permohonan. Namun ada yang tidak berubah, nuansa komunal, kami. Doa Bapa Kami memang tidak pernah sekadar doa personal, tetapi senantiasa doa komunal.

Pernyataan “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” langsung membunyikan bel peristiwa pembentukan identitas Israel dalam eksodus padang gurun, terkhusus peristiwa manna. Mereka yang mengambil lebih akan mendapatkan mana itu busuk dan berulat keesokan harinya. Takaran yang diberikan oleh Yang Ilahi itu selalu ukuran yang pas, tidak pernah kurang, tidak pernah lebih. Pas itu yang paling tepat, sebuah mur dan baut tidak akan bisa saling berikatan jika lebih besar atau lebih kecil. Namun pas ini pun alih-alih yang penting aku pas, tetapi pas yang pas adalah pas bersama-sama, seolah dibawa meloncat pada “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” Keseimbangan adalah prinsip semesta yang dijaga, bahkan dalam doa. Bahkan dalam doa permohonan pun, suasana diakonia tidak pernah lenyap. Maka safaat pertama yang diajarkan Yesus, tidak lain adalah Doa Bapa Kami.

Doa ini kemudian ditindaklanjuti dalam berbagai macam perintah simpatik, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Ada perumpamaan tentang burung di langit hingga bunga bakung di padang yang didandani oleh Bapa di Sorga di sana. Sebuah perbandingan antara orang yang tidak mengenal Allah dengan orang percaya. Orang percaya tidak khawatir dengan ketercukupan material dalam hidupnya. Maka jika setelah doa ini muncul perbandingan antara mamon dengan Allah, sangat masuk akal. Pengajaran dalam Matius 6 disambung dengan mujizat-mujizat, salah satu yang paling fenomenal adalah pemberian makan bersama pada 5000 orang. Ketika para murid menyuruh orang memberi makan, Yesus justru berkata keras bahwa merekalah yang harus memberi makan. Dan entah bagaimana lima roti dan dua ikan itu cukup bahkan berlebih. Seolah-olah hendak dikatakan bahwa lima roti dan dua ikan yang disyukuri dan dimohonkan pada Bapa akan mampu mencukupkan bilangan yang terlalu besar. Maka kekhawatiran adalah ketidakperluan. Dan bersama dengan Tuhan, “Makan gak makan yang penting kumpul” itu masuk akal. Kekhawatiranlah kemustahilan dalam iman.

Perihal berikut yang luar biasa yang berikut adalah bahwa sebelum segala permohonan yang lain, permohonan pertama adalah permohonan urusan makan (roti dalam bahasa aslinya). Sebelum urusan perdamaian dunia (mengampuni-diampuni), tantangan-tantangan iman (pencobaan) hal pertama kali adalah makan. Makan berhubungan dengan hidup. Pertama kali hiduplah dulu, baru yang lain-lain. Mengupayakan kehidupan bersama adalah jauh-jauh-jauhhh lebih penting daripada perihal yang nampak paling imani sekalipun. Perihal paling spritual justru adalah yang tampaknya paling duniawi: makan untuk kami. Kesadaran akan budaya yang pro kehidupan bagi semua adalah dasar bagi kesadaran-kesadaran iman yang lain. Demikianlah ketika para murid itu memetik gandum pada hari Sabat, Yesus membenarkan mereka di depan para ahli kitab. Hidup itu jauh lebih penting daripada kitab dan segala perintahnya. Maka kelompok radikal yang memberangus kehidupan atas nama keagamaan dan perintah Ilahi sekalipun adalah kesalahpahaman. Atau pada sisi lain, gereja raksasa tapi warganya tetap hidup sengsara.

Pada hari ini budaya pro kematian seperti ketidakadilan, hubungan transaksional antar sesama ciptaan, spektakulerisme dan kisah kemasan merajalela di mana-mana. Freeport dengan Suku Amungme, Perusahaan Sawit di Sumatera, Lapindo dan masyarakat Sidoarjo, hingga penyalahgunaan kewenangan hukum dalam kasus-kasus kemanusiaan yang menyamaratakan prinsip keadilan, seolah hukum adil adalah eksak ketimbang sosial, para korban yang tidak tahu apa-apa disalahkan, tanpa melihat bagaimana budaya pendidikan dan budaya sistem kelas yang tercipta di masyarakat begitu mewarnai kehidupan Indonesia. Anak alay menjadi bulan-bulanan tanpa melihat kelompok selebritis yang memaksa mereka yang alay untuk mengimitasi gaya hidup mereka. Hukuman mati, pelecehan seksual, peminggiran LGBT, human trafficking, terlampau banyak. Berbicara tentang ini, maka berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya adalah pernyataan yang tidak bisa dihindarkan, sebuah upaya untuk berbicara atas nama – bukan gayah-gayahan, gagah-gagahan – keadilan sosial. Sensibilitas.

Di sinilah menjadi penting peran mereka yang ikut berdoa Bapa Kami dengan khusus. Mereka bukan dipanggil sekadar untuk mengurus kehidupan sendiri, tetapi kehidupan bersama. Karena itulah makanan adalah perihal sebelum yang lain-lain. Karena apa pun berangkat dari urusan makan. Urusan hidup, hidup yang bersama. Berdoa Bapa Kami dan absen pada perihal itu adalah absen pada kehidupan. Selamat berdoa, selamat hidup.

COMMENTS

Nama

15 Menitan,59,ACWC,2,adi yuswa,2,Adven,1,Baptis,3,Berita,180,Berita Jemaat,75,Bulan Budaya,1,Bulan Keluarga,1,Bulan Kitab Suci,1,Daur Majelis,2,Essay,10,Foto,119,Gereja Suaka Iklim,3,Hari Doa Sedunia,3,HPPGA,2,HUT,3,HUT ke-135 Tahun,1,HUT RI 78,1,Ibadah,64,Ibadah Syukur,18,Intergenerasi,3,Jumat Agung,2,Kafe Door,10,Kamis Putih,1,Kartini,2,Kelas Kreatif,12,Kelas Mulung,5,Kemerdekaan,3,Kerja Bakti,4,Kesekretariatan,23,Kespel,2,KPAR,36,KPAY,5,KPK,6,KPMG,2,KPP,11,KPPL,8,KPPM,32,KPPW,8,KPT,47,Lomba Agustusan,1,Majelis,1,MD Kediri Utara 2,16,Minggu Palmarum,1,Mulung,82,Natal,12,Oikumene,1,P2A,5,PA,3,Padus anak,1,Pamong,1,Paskah,11,Pekan Pemuda,1,Pemuda,23,Pendeta,5,Pentakosta,2,Perjamuan Kasih,2,Perjamuan Kudus,5,Pertanian Organik,4,PEW,15,PJS,1,Pokja Reportase,2,Poster Natal,1,PPerjamuan Kudus,1,Pra Paskah,8,Produk Cafe Door,3,Produk Jemaat,5,Produk Kelas Kreatif,2,Produk Pemuda,1,Program,8,Program Unggulan,40,PTWG,3,Renungan,50,Sabtu Sunyi,1,SALIB,1,Sejarah,4,Sidang MD,1,Tahun Baru,3,Teologi,27,Tokoh,5,UEM,2,UKDW,1,Unduh-unduh,4,Warga,27,Wartawan Cilik,8,
ltr
item
GKJW Jemaat Tunglur: Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (4)
Seri Doa Bapa Kami Rasa Indonesia (4)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSo0nWoB3cZ2squza6RcCXfGb4hr1otz_8EupzTM-g7V9uNDpADE8_BVhaM64kFMzBiWGNXay8qjDr-mcMJxfUOBPWvWvHwKsfQEb8ilZ3Zz5csNePkhWfSwKfOyKS1wP0k60ZsPT_01M/s1600/Narrowing-the-rice-yield-gap.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSo0nWoB3cZ2squza6RcCXfGb4hr1otz_8EupzTM-g7V9uNDpADE8_BVhaM64kFMzBiWGNXay8qjDr-mcMJxfUOBPWvWvHwKsfQEb8ilZ3Zz5csNePkhWfSwKfOyKS1wP0k60ZsPT_01M/s72-c/Narrowing-the-rice-yield-gap.jpg
GKJW Jemaat Tunglur
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/02/sero-doa-bapa-kami-rasa-indonesia-4.html
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/
https://tunglur.gkjw.or.id/2017/02/sero-doa-bapa-kami-rasa-indonesia-4.html
true
6179814512795437537
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy