Pekan Pemuda GKJW 2026 menjadi momen istimewa bagi GKJW Jemaat Tunglur. Kehadiran kembali Pdt. Gideon Hendro Buono, yang pernah melayani selama 6 tahun di Tunglur, menghadirkan nostalgia, air mata, sukacita, dan pengingat bahwa cinta kepada Tuhan dan jemaat selalu menemukan jalannya untuk bertumbuh.
Ibadah Pekan Pemuda GKJW Jemaat Tunglur tahun ini terasa berbeda. Mengusung tema “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe”, ibadah ini menjadi istimewa karena KPPM Pemuda GKJW Tunglur mengundang kembali Pdt. Gideon Hendro Buono untuk melayani firman Tuhan. Kehadiran beliau bukan sekadar kunjungan seorang pendeta, melainkan perjumpaan kembali dengan sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup bergereja di Tunglur.
Pdt. Gideon Hendro Buono pernah melayani sebagai pendeta baku GKJW Jemaat Tunglur selama 6 tahun, pada 2011–2017. Selama masa pelayanan tersebut, beliau menyaksikan perjalanan sebuah jemaat kecil yang terus berjuang, bertumbuh, dan menemukan harapan di tengah berbagai keterbatasan. Karena itu, perjumpaan kembali ini menghadirkan kenangan bagi banyak warga jemaat, bukan hanya bagi pemuda, tetapi juga bagi seluruh keluarga besar GKJW Tunglur.
Pemuda Melayani, Jemaat Bertumbuh Bersama
Di tengah ibadah, suasana semakin semarak dengan penampilan dari berbagai kelompok usia. Paduan suara Adiyuswa mempersembahkan pujian, sementara anak-anak dan remaja turut bernyanyi dan menari. Perbedaan generasi yang hadir dalam satu ibadah ini memperlihatkan bahwa kehidupan gereja merupakan perjalanan bersama: ada yang telah lama melayani, ada yang sedang bertumbuh, dan ada pula yang tengah dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan pada masa mendatang.
Mengenang Perjalanan Tunglur: Jemaat Kecil yang Menolak Mati
Dalam khotbahnya, Pdt. Gideon tidak hanya menyampaikan firman Tuhan, tetapi juga mengajak seluruh warga jemaat kembali menengok perjalanan GKJW Tunglur. Beliau menceritakan bagaimana Tunglur dahulu dikenal sebagai jemaat yang sangat kecil, dengan berbagai keterbatasan dalam kehidupan bergereja.
Tunglur pernah berada dalam keadaan yang tidak mudah. Jemaat kecil ini kesulitan membiayai pelayanan pendeta, kerap diwarnai pertengkaran, belum banyak terlibat dalam kegiatan Majelis Daerah, dan masih bergantung pada subsidi. Bahkan, muncul pandangan pesimistis seolah-olah jemaat ini tidak memiliki masa depan dan hanya tinggal menunggu waktu untuk mati.
Namun, sejarah Tunglur tidak berhenti pada cerita tentang keterbatasan. Waktu berjalan, dan perubahan perlahan terjadi. Di tengah kemampuan yang terbatas, jemaat terus belajar memberi. Angka persembahan mungkin tidak besar, tetapi terus bertumbuh. Keterlibatan dalam kegiatan Majelis Daerah pun semakin nyata. Jemaat yang dahulu jarang mengambil bagian, kini turut berkontribusi dalam kehidupan pelayanan di lingkup Majelis Daerah Kediri Utara 2, bahkan dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai ketua dan sekretaris BPMD.
Perjalanan tersebut bukanlah kisah tentang sebuah jemaat yang tiba-tiba menjadi besar. Ini adalah kisah tentang warga yang terus berjuang, tentang kesediaan untuk memberi meski sedikit, tentang keberanian untuk terlibat, dan tentang iman yang tidak membiarkan keadaan menentukan masa depan.
Tunglur mungkin pernah dipandang kecil dan tidak memiliki harapan. Namun, jemaat ini terus bergerak. Tunglur terus berjuang untuk hidup. Tunglur menolak mati.
“Itulah Cinta”: Ketika Perjuangan Melahirkan Harapan
Dari kisah perjalanan Tunglur itulah Pdt. Gideon mengajak jemaat merenungkan makna cinta. Cinta bukan sekadar perasaan hangat atau kata-kata indah. Cinta terlihat dalam perjuangan, pengorbanan, kesediaan untuk bertahan, dan keberanian untuk terus bergerak sekalipun perjalanan tidak selalu mudah.
Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu kuat dan menyentuh hati:
“Berapa banyak air mata dan darah dicurahkan untuk kisah itu? Terlalu banyak! Itulah cinta! Kita yang kecil dan menolak mati ini belajar mencintai. Cinta itu mengganggu! Cinta tidak diam, cinta menuntut kita bergerak, cinta itu kadang melukai, tapi tidak berhenti. Dan dari sinilah lahirlah harapan.”
Kata-kata tersebut seolah membawa seluruh warga jemaat kembali pada perjalanan yang telah dilalui bersama. Ada perjuangan yang tidak selalu terlihat, ada pengorbanan yang mungkin tidak banyak diceritakan, ada air mata yang jatuh dalam proses bertumbuh, dan ada kesetiaan yang membuat jemaat tetap bertahan hingga hari ini.
Cinta, dalam kisah Tunglur, bukan sesuatu yang berhenti pada kenangan masa lalu. Cinta adalah kekuatan yang mendorong jemaat untuk terus melangkah, sekalipun keadaan tidak selalu mudah. Cinta membuat warga tetap memberi dalam keterbatasan, tetap melayani ketika lelah, dan tetap berharap ketika masa depan belum sepenuhnya terlihat.
Suasana ibadah pun terasa begitu haru. Sukacita dan air mata hadir berdampingan. Ada warga yang menangis, ada yang larut dalam kenangan, dan ada pula yang merasakan kembali kasih Tuhan melalui kisah perjalanan jemaatnya sendiri. Bukan semata-mata karena mengenang masa lalu, melainkan karena menyadari bahwa Tuhan tetap menyertai perjalanan GKJW Tunglur, dalam masa-masa sulit maupun dalam setiap pertumbuhan yang dialami.
Kehadiran Pdt. Gideon menjadi pengingat bahwa kasih Tuhan dapat dirasakan melalui perjalanan hidup bersama, melalui orang-orang yang pernah hadir dan melayani, serta melalui kekuatan sebuah jemaat untuk terus bertumbuh.
Sukacita yang Dibagikan, Pelayanan yang Diteruskan
Rangkaian Pekan Pemuda tidak berhenti pada ibadah. Usai ibadah, para pemuda menyiapkan bubur kacang hijau untuk dibagikan kepada warga jemaat sebagai ungkapan syukur. Sebuah hidangan sederhana menjadi sarana untuk merawat kebersamaan, berbagi sukacita, dan mempererat persaudaraan di antara warga jemaat.
Hal sederhana ini sejalan dengan semangat “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe”: tidak harus menunggu memiliki sesuatu yang besar untuk dapat memberi, dan tidak harus melakukan hal yang luar biasa untuk menghadirkan kasih. Terkadang, pelayanan justru tumbuh melalui kesediaan melakukan hal-hal sederhana dengan hati yang tulus.
Pekan Pemuda menjadi ruang bagi para pemuda untuk belajar mengambil tanggung jawab, melayani bersama, dan menyadari bahwa masa depan gereja tidak dibangun oleh satu generasi saja. Gereja bertumbuh ketika setiap generasi bersedia mengambil bagian, saling mendukung, dan meneruskan semangat pelayanan yang telah dirintis sebelumnya.
Dari Kenangan, Tumbuh Harapan
Kembalinya Pdt. Gideon Hendro Buono ke GKJW Jemaat Tunglur dalam ibadah Pekan Pemuda 2026 menjadi perjumpaan yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bagi warga yang pernah mengalami masa pelayanannya, perjumpaan ini menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan yang penuh cerita. Bagi para pemuda, momen ini menjadi pelajaran bahwa gereja yang mereka hidupi hari ini berdiri di atas perjuangan dan kesetiaan banyak orang sebelum mereka.
Dari perjalanan Tunglur, kita belajar bahwa menjadi kecil bukan berarti tidak berarti, mengalami keterbatasan bukan berarti kehilangan masa depan, dan menghadapi kesulitan bukan berarti harus berhenti berjalan. Selama masih ada kasih, iman, dan kesediaan untuk melayani, selalu ada harapan untuk bertumbuh.
Kiranya Pekan Pemuda tahun ini tidak hanya menjadi kenangan yang indah, tetapi juga menjadi awal dari semangat baru bagi seluruh warga GKJW Tunglur. Kiranya kehadiran Pdt. Gideon menjadi pengingat akan kasih yang pernah ditanamkan dan terus bertumbuh, sementara para pemuda dan pemudi semakin berani mengambil bagian dalam pelayanan, merawat jemaat, dan meneruskan perjalanan gereja dengan hati yang tulus.
Sebab Tunglur bukan sekadar jemaat kecil yang pernah berjuang untuk bertahan. Tunglur adalah keluarga yang terus belajar mencintai. Dan selama cinta itu tetap hidup, harapan akan selalu menemukan jalannya.
Sepi ing pamrih, rame ing gawe, melayani dengan tulus, bergerak bersama, dan terus menumbuhkan harapan bagi generasi yang akan datang.
Foto oleh : Sdr. Nanda (Tunglur), Ank. Riko (Tunglur)
Penulis : Sdr. Nanda (Tunglur)





















COMMENTS