Hari Doa Sedunia (HDS) merupakan gerakan ekumenis global yang dipelopori oleh perempuan Kristen dari berbagai latar belakang budaya dan tradisi. Setiap tahunnya, seluruh umat kritiani diajak untuk bersatu dalam doa melalui liturgi yang disusun oleh negara yang berbeda. Pada tahun 2026 ini, Nigeria menjadi tuan rumah, membawa seluruh umat kristiani pada perenungan mendalam tentang ketangguhan, iman, dan persaudaraan yang melampaui batas samudera.
Ibadah HDS tahun 2026 bukan sekadar rutinitas liturgis, melainkan respons kolektif terhadap undangan Kristus: “Aku Akan Memberikan Kelegaan Kepadamu, Datanglah!” (Matius 11: 28). Makna terdalam dari ibadah ini adalah penyerahan diri. Di tengah beban hidup yang kian kompleks, ibadah ini menjadi ruang aman bagi kita untuk menanggalkan "beban hati & pikiran" lalu mengenakan “kuk” sebagai wujud kasih sayang Kristus yang ringan, sembari belajar dari semangat resilience perempuan Nigeria yang pantang menyerah dan perjuangan anak-anak dalam meraih masa depan.
Dalam ibadah HDS di Jemaat Tunglur, dirancang secara simbolis untuk membawa jemaat dalam perjalanan spiritual yang utuh. Termasuk juga melibatkan anak-anak hingga remaja sebagai satu kesatuan yang indah. Mengawali dari panggilan beribadah untuk mengajak umat memasuki hadirat Tuhan dengan kesadaran akan keletihan jiwa, disambut dengan kehangatan persaudaraan global. Liturgi yang digunakan pun juga menyapa konteks Nigeria, yang membawa pada penghayatan terhadap gumul-juang sesama saudara di Nigeria, sehingga membawa kami pada doa, empati dan solidaritas.
Firman Tuhan yang meyapa kami melalui Matius 11:28-30, memberikan makna tentang kelegaan yang sejati. Bahwa mengikut Yesus bukan berarti hilangnya tugas, melainkan hadirnya rekan seperjalanan yang menanggung beban terberat dalam kehidupan ini. Sehingga, kami merespons dengan tidak hanya berdoa untuk diri sendiri melainkan juga bermuara pada komitmen nyata yang dapat kami mulai dari diri kami sendiri. Kami juga mendoakan anak-anak di Nigeria dan di seluruh dunia agar tumbuh dalam lingkungan yang penuh solidaritas, di mana kalimat afirmasi menjadi fondasi bagi ketangguhan emosional seseorang, baik laki-laki-perempuan serta anak-anak.
Melalui rangkaian ibadah ini, kami diingatkan bahwa menjadi kuat bukan berarti menanggung segalanya sendirian. Ibadah HDS 2026 memanggil kami untuk kembali pulang ke pelukan Tuhan, mengungkapkan beban dengan damai sejahtera, dan melangkah keluar dengan optimisme yang baru.



















































COMMENTS